Metz Muntsani

"Kesunyian adalah teman sejati"

info blog metz

Posted by metzz pada April 22, 2011

salam…

kawan-kawan,
blog ini sudah jarang posting baru, untuk melihat tulisan baru dari metz bisa dilihat dalam blog barunya di blogspot…
alamat blog barunya : http://zabalahque.blogspot.com/

terima kasih

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Mantra Proletar

Posted by metzz pada September 6, 2010

“Kulkunu hijarotan
Aujaza fi nafsihi
Saifi Musa”

Merasuk, rasuk menjadi
Menajam diri…

Akan kutebas setebas saja sebelum mereka melepas dasi
Akan kutumpahkan merah mata bila tetap berdalih
Akan kupelihara tanah ini walau harus mati

Jangan diam saja, kawan!

Sumenep, 27 Ramadhan 1431 H

Posted in Puisi | Dengan kaitkata: , , | 1 Comment »

Menjelang Pagi

Posted by metzz pada Agustus 11, 2010

Menjelang pagi, sunyi bersenandung seperti tarian tubuh
Dan irama angin menyelimut dzikirku
Membungkam kata dan menerima kejujuran bibir yang tak bersuara
Lalu mengalir lewat darah, dan mengental dalam dada

Di sini, nafasmu menggeliat di setiap celah-celah kamarku
Mengkabar bau tikus di selokan rumah sakit dan rumah kumuhku
Dan tanah negeriku…

Menjelang pagi, tak kuingat lagi aroma bunga dan buku-buku
Kecuali jerit rintih dan perih
Sebab, tubuhku telah menjadi bahasa.

Timoer Bandung, Agustus 2010

Posted in Puisi | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Aku dan Sajakmu

Posted by metzz pada Mei 8, 2010

__Untuk Ali Mifka & Rimura Arkenz

Kugemari sajakmu, kawan
Menjelang tidur dan sebelum pagi
Di garis bibirmu tak kutemui
kata memucat basi
Seperti embun
Membasuh luka dan perih

Kini,
Kurindukan sajakmu, kawan
Meramu ombak
Dan memisau risau dunia yang semakin liat
di tanah kita ini

Dan matahari, kawan
Mulai tak bersahaja

Kubutuh sajakmu, kawan
Melancipkan alis kekasih kita
sebelum senja bertutur sapa

Timoer Bandung, Bulan Lima 2010

Posted in Puisi | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Sepagi Ini

Posted by metzz pada April 23, 2010

Sepagi ini telah kau layatkan syair-syair
Tentang embun dan kicau burung-burung di sisa reranting kisahku,
Dimana rekah bibirmu merangkum elok bunga mawar
Dan memapah sajak pada panggung keakuan asmara.

Sepagi ini, aku terjaga tetap teriris rindu

Di ujung kemarau, kusimpan sepahat senyum
Dan suaramu. Menjejal gurat kasih di langit-langitku
Dalam detak dan rangkaian usia yang semakin lapuk
Kulumat, kemudian kau berpejam mata
Tinggallah rintih luka membalut jiwa

Sepagi ini, aku harus berhenti pada titik lain
Sebab, rintih bulan telah jadi kelam rekah

Timoer Bandung, Bulan Empat 2010

Posted in Puisi | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Pada Lengkung Alismu Kutemukan Lekukan Bulan

Posted by metzz pada Maret 31, 2010

Malam ini, seperti malam sebelumnya, ada kabut yang melingkar di remang-remang kesunyianku, dan ingin sekali kusibak supaya aku dapat menikmati cerahnya langit. Terkadang aku menyaksikan bintang jatuh di arah timur, konon, itu adalah pertanda. Tapi kubiarkan saja ia lewat, dan kuhiraukan rinding bulu kudukku yang semakin merayap bersama dingin malam. Perlahan hanya kudengar detak jam dinding, dan perlahan pula malam ini mengingatkan aku pada seraut wajahmu yang ayu. Dulu engkau berpincu di bawah sinar bulan, dan engkau cemberut ketika cahaya bulan dipeluk awan. Dan aku, hanya setia menemanimu.

Desember lalu, tahun yang entah, kau telah nobatkan sebagai bulan yang ranum pun penuh perih di sekujur tubuh kisahku.

“Aku masih milikmu, entah sampai kapan”. Ketika malam mulai melantunkan syair kesunyian, terkadang perih pun rindu merayuku untuk sekedar bersapa, Lalu kubiarkan setitik airmata jatuh menyirami benih rasa yang dulu kutanam bersamamu di tanah yang datar. kini, berkali-kali, kubiarkan rasa itu bermitafor dalam bentuk yang berbeda, dan jiwanya tetap mengabadi, bahkan dapat kukatakan; “inilah hantuku sepanjang waktuku, aku tetap milikmu walau engkau terlihat jauh”.

Sebelum gerimis perlahat menjahit resahku, tentang kisah yang silam dan frase-frase yang tak mudah aku terima, aku tak ingin terjaga dalam peluk yang tak bisa aku hentikan. Pada suatu sore yang kelam, engkau membujukku dengan satu puisi yang sedikit mengiris kebekuan benakku, bahwa kehadiranku bukanlah subjek yang dihadapkan pada objeknya, sebab aku tak suka objektifikasi yang [ter]ramu dengan begitu saja dalam gerak kisah kita. Lalu, kulihat hujan mulai rebah pada tanah yang kering. Menumbuhkan hasrat dan harapan yang telah lama dilipat getir dan kegersangan hati.

Kisah yang lapuk sebab tersungkur pada dirinya sendiri sungguh sulit untuk aku dendangkan dengan sedikit irama. Barangkali memang tak pantas menjadi larik-larik kemungkinan pada jejak selanjutnya. Sebab, kehausanku mulai menyeretku pada tebing-tebing keangkuhan, dan aku merasakan ada yang liar dalam detak hatiku, sebenarnya ada getir yang berlebihan, tapi kubiarkan terbaring bersama rindu di mulut kesunyian dan kesendirianku.

“Kalau aku memulai suatu nyanyian di pagi nanti, burung-burung pastilah cemburu, dan kuhawatir besok ayam tak mau membangunkan aku lagi. Kalau aku tak bernyanyi, lalu siapa yang akan meramaikan sepi hatimu.”

Inilah telaga, dimana kita harus menyusuri semak-semak kenangan untuk sekedar amuk rindu. Ziarahkan pekat yang melilit di detak jantung dan lipatan hati pada muara yang berdekatan dengan samudranya. Lalu, disana kita akan meminum seteguk anggur sampai dahaga tak menyekat sesak tenggorokan kita.

Inilah cerita yang telah menjadi artefak dan fosil-fosil suatu kisah yang sekian lama tertanam di kebun belakang rumahku. Sebenarnya, aku hanya ingin mengakui bahwa pada lengkung alismu kutemukan lekukan bulan.

Timoer Bandung, 2009


Posted in Catatan Sederhana | Dengan kaitkata: , | Leave a Comment »

Telaga Pertemuan

Posted by metzz pada Maret 24, 2010

Di sini terlalu pekat untuk pertemuan. Perempuan itu sangat imajiner dalam satu cerita. Maka aku jadikan beberapa babak yang tidak lagi memperdulikan latarnya. Cukuplah perempuan itu merasuk ke dalam pikiranku. Dan ketika rindu itu datang, hanya dengan onani maka dianggap selesai semuanya. Benarkah….?

Kenapa kita takut membercakkan sesuatu dalam kesunyian? Kematian, mati, bukan lagi sesuatu yang harus dihindari. Perpisahan dan pertemuan adalah hal wajar saja. Karena air mata tidak selamanya buruk.

Di antara kita siapa memanggil ‘siapa’. Aku bosan dengan kebutuhan biologis ini yang tiada habisnya. Memaksa aku terus ber-sensasi dengan tanganku sendiri sambil memojokkan diri di kamar mandi. Dan sedikit memeramkan mata untuk kehadiran yang dipanggil. Tentunya, perempuan itu di sisi lainku selalu menjelma harapan biologis.

“Pelan-pelan”. Bisiknya, membuat aku semakin bersemangat dan menggebu. Akan tetapi sangat disayangkan kalau hidup hanya diandang sebatas onani, dan selesai.

Aku menyesal, perempuan itu mengajari hidup di titik yang berbeda. Tapi aku lebih menyesal kalau sampai tidak mengetahuinya. Sekarang aku mengerti bahwa hidup memang menyimpan banyak pertanyaan. Sedangkan kematian tidak sama sekali.

“Kenapa kamu tidak lakukan lagi?” Katanya menggoda.
“Aku lelah”.
“Bukankah kamu merindukan aku?”
“Ya. Tapi sekarang banyak yang harus aku kerjakan”.
“Kamu bohong”.

Perempuan itu terlihat bermuka cemberut, lalu pergi. Seakan ia menamparku dan berkata ‘Aku dilahirkan atas permintaanmu, kenapa kamu tidak mau menerimanya?’. Perempuan itu pergi karena hal kecil. Aku hanya tersenyum. Kalau saja ia mengerti, bahwa hidup tidak pernah dipinta, dan hidup ini penuh dengan kegelisahan dan air mata, penuh dengan beban moral yang tidak akan selesai dengan onani, tentunya tidak akan separah ini. Dan aku seorang lelaki sedikit egois. Inilah yang membuat aku sedih, kenapa perempuan itu begitu naïf memandang hidup, dan kenapa juga laki-laki suka terlena terhadap kenikmatannya?

Barangkali aku sebagian dari manusia brengsek. Menyiksa diri dalam kesendirian dan kesepian. Sedang rindu semakin memburu benak diri. Paling tidak aku sudah berani mengusir perempuan itu walaupun sangat menyakitkan. Dan aku sudah tidak ‘bunuh diri’ lagi.

Coba kita lihat, banyak sekarang manusia melakukan onani. Bukan hanya sekali dua kali, hampir setiap hidupnya. Entah karena perempuan atau karena lainnya. Hidup hanya untuk biologisnya sendiri semata. Hingga pada akhirnya semesta ini penuh dengan benih-benih yang hanya akan merusak tatanan dan generasi selanjutnya. Entah ini warisan atau apa!

Humanisme, kapitalisme, saintisme, materialisme dan globalisasi, bahkan label-label sentrisme lainnya telah menjadi kondom keserakahan dan pemuasan diri. Sedangkan hidup semakin berada di dataran tak berdaya. Siapa yang tidak muak terhadap semua ini? Aku memang belum punya solusi tapi aku mengerti.

Tiba-tiba perempuan itu datang lagi. Ia datang mungkin karena dekat denganku, mungkin juga karena ia pernah menjadi kekasihku. Yang pasti, aku tidak mungkin bersamanya lagi.

“Apa kamu tidak merindukan aku?”. Perempuan itu seperti merayu.
“Tidak”. Kataku tegas.
“Kita kan pernah saling mencinta”.
“Tidak. Kamu telah menghianati aku. Menghianati hidup. Menjadikan aku sebagai budak”.
“Bukankah sekarang kamu juga menjadi budak diri kamu sendiri?”
“Lebih baik begitu, daripada tidak punya beban moral”.

Perempuan itu diam seperti tidak punya alasan dan rasa salah saja. Sedangkan aku semakin merasa bersalah pada diri. Penyesalan dan kekesalan dalam diri menjadi satu kecamuk. Dan benak telah muntak kata, pisau, air mta, darah dan sebagainya. Sehingga aku pun bingung harus berlabu kemana dan dimana.

Hanya karena perempuan, ya, perempuan itu telah membuka pintu jiwaku. Memngantarkan aku pada pengetahuan hidup yang bermuara kemuakan. Tidak ada harapan yang dapat diperjuangkan. Tidak ada janji yang harus di panjatkan. Karena semua kini menjadi omong kosong.

Barangkali aku sudah bosan hidup. Menyaksikan penindasan yang terus-menerus seperti mata rantai. Bahkan dalam semua bidang. Dan cinta pun dijadikan permainan saja. Aku laki-laki lemah, namun tidak selemah mereka yang onani hanya untuk memuaskan diri. Termasuk perempuan itu. Kita memang sama-sama ber-onani, hanya saja aku tidak mau menjadi manuisa anjing. Anjing apapun! Apa aku frustasi? Bisa benar.

Timoer Bandung, 2007

Posted in Catatan Sederhana | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Sesenja Bersama Sinta

Posted by metzz pada Maret 22, 2010

Pulau yang panas, kulitku berkerak keringat garam. Mungkin butuh adaptasi. Mungkin juga karena tubuhku tak suka dengan hal yang panas-panas. Di ruangan persegi panjang, konon aula persidangan, kursi-kursi berjejer sejajar seperti militer yang lagi berbaris untuk berangkat perang. Dan aku, berada di bagian tengah. Di depan, mereka gagah melontarkan idealisme suatu gerakan yang akan kami perjuangkan. Serupa harimau yang berancang-ancang menyantap daging sapi yang sedang melintas di wilayahnya. Oh..aku mengerti, mereka kelaparan dan tampil sebagai pahlawan.

Beberapa menit kemudian, di barisan bagian depan kanan, ada yang mengangkat senjatanya. Lalu ia berteriak sekeras mungkin. “Jangan terlalu lama, kami sudah tidak tahan untuk memulainya”. Mereka yang di depan hanya menganggukkan kepala. Di barisan depan kiri tiba-tiba berdiri, dadanya kekar dan membusung, dan ia juga tak mau kalah. “Sekarang sudah waktunya, jangan ditunda-tunda lagi”.

Di sebelahku, tepat bersebelahan denganku, berbisik pelan memberitahukan dua orang utusan daerah yang berteriak keras tadi. Katanya, yang sebelah kanan itu dari Palu, dan yang sebelah kiri dari Riau. Mereka pemberani dan siap melakukan apapun. Dan dia sendiri dari Sulawesi.

Dari belakang tiba-tiba ada yang membanting kursi, mungkin karena ia tidak bisa berteriak sekeras yang di sebelah kanan depan dan sebelah kiri depan. Ia hanya berkata beberapa kata. Sekejap ruangan menjadi sunyi mencekap. Suasana semakin memanas. Sebab, ia tidak yakin dengan apa yang diperjuangkan merupakan sesuatu yang benar. Ia berdalih bahwa yang akan diperangi saudaranya sendiri yang tersesat untuk pulang.

Lalu saudara-saudara dari Palu tidak terima, termasuk Riau. Mereka seakan pahlawan tanpa tanding. Ruangan semakin membara. Setiap utusan dari daerah-daerah mulai berapi-api.

“Siapa kau, tiba-tiba bilang mereka adalah saudara kita”.
“Kami dari Lampung”.
“Penghianat!”
“Tidak, kalian yang mulai buta sehingga membuta”.

Di barisan depan mencoba menenangkan suasana. Menjelaskan bahwa semuanya benar. Apa yang akan kita perangi adalah saudara kita sendiri dan tidak mau pulang. Kalau mereka tidak kita bunuh, mereka yang akan membunuh kita. Dan di barisan depan begitu pandai merajut seluruh elemen sehingga ruangan menjadi tenang dalam kemarahan.

Barisan depan kemudian berseru, seperti mengabsen; “di mana saudara dari Jawa, Banten, Bandung, Cirebon,  Jogjakarta, Solo, Surabaya, Malang dan sebagainya?”. Dan di barisan tengah serta sebagian barisan belakang berdiri sambil berkata; “kami di sini”.

“Kita akan memulai”.
“Tunggu!” dari Aceh menyumbang teriakan.
“Ada apa?”
“Kami masih sedikit ragu”
“Apa yang diragukan oleh anda”
“Kami ragu terhadap kalian”
“Jangan hawatir kami akan selalu bersama kalian, ikut membasmi musuh-musuh kita”.
“Benarkah?” dari Jogjakarta mulai bersuara.
“Kami akan menciptakan pahlawan-pahlawan di negeri ini”

Dan tanpa dihiraukan kegaduhan dalam ruangan, barisan depan langsung mengetuk palu. Mereka seakan tidak mau digugah. Mereka hanya mau menggugah. Dan semuanya mengikuti begitu saja.

Di sini, utusan dari Jawa dan sebagian daerah luar Jawa mulai semakin ragu. Mereka berbisik-bisik, mempertanyakan apa sebenarnya yang kita perjuangkan. Idealisme semacam apa dan untuk siapa. Lebih dari separuh dari peserta yang ada semakin ragu dan bertanya-tanya…

Timoer Bandung, ….

Posted in Catatan Sederhana | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Dunia ini penuh dengan keangkuhan, kemuakan, kemurkaan, ketamakan, kemunafikan, kebencian, kemurungan, kecemburuan, dan sedikit sekali niat yang berbunga, berbuah, berakar. inilah dunia kita, penuh dengan tangisan dan airmata, kejumudan jejak dan lusuhnya waktu. inilah dunia kita, tanah kita, tempat hidup kita,….

Posted by metzz pada Maret 17, 2010

………………

“Hari ini aku letih, merasa jenuh dengan dunia ini”

…………………

Timoer Bandung, Maret 2010

Posted in Catatan Sederhana | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments »

Rindu, Kelam, Getir, Perjumpaan yang tak diharapkan, Sebuah kisah, Di kening waktu tentang sedikit air mata, Bunga tak sempat menjadi buah, Gugurnya daun yang berwarna beda, Aku tetap meragu…

Posted by metzz pada Maret 12, 2010

Kemarin ia menghampiriku, dengan senyum tipis di bibirnya yang ranum dan masih terlihat manis, membawa bingkisan yang sebelumnya telah kuduga. kuterima dengan sedikit keraguan, dan bingkisan itu tak ingin kubuka di hadapannya, kubiarkan tersimpan di lemariku yang mulai lapuk termakan usia. ia memulai pembicaran, bertanya kabar dan tutur kata basa-basi yang cukup memuakkan sebagai kata pengantar. aku hanya meng-iyakan dan sesekali menyumbang tutur ritual sebuah perjumpaan dari jarak waktu yang cukup lama untuk dibilang lama tak jumpa. Aku merindukannya, tapi aku tak ingin basa-basinya. Perjumpaan yang mungkin terakhir kali ini barangkali tak mampu mengobati apapun, dan bahkan mungkin saja akan memperparah lipatan hati yang seringkali dirundung tangis. tapi kubilang “baiklah, aku sudah terbiasa”.***

Kisahku memang angkuh tertanam dalam kabut yang terus bersesepi diri dan berkidung di tebing-tebing kesunyian tanpa sedikitpun letih. Aku belajar dari seorang lelaki yang berani berlayar melawan gelombang dan badai di tengah-tengah samuderanya sampai ia menemukan sebuah tepian akhirnya.

Bingkisan yang ia berikan padaku adalah tangis yang terus memanjang dan meluluh lantakkan segala impian serta harapan untuk membangun suatu permadani. Dan kini, kubiarkan tetap rapi walau sangat pahit dalam lemari kecil hatiku. entah sampai kapan, sebab aku tak memiliki keberanian melenyapkan pun dari bayangan hidupku sendiri.*—————-

Timoer bandung, 2010

Posted in Catatan Sederhana | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | 4 Comments »

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.