Metz Muntsani

"Kesunyian adalah teman sejati"

Menjemput waktu…

Posted by metzz pada Juli 20, 2009

Api menyala di dalam hatiku. Tahun demi tahun semakin terasa, sebab usia semakin kering dan ternoda. Di bumi ini aku merasa tersesat. Bagiku, kebenaran dan kenyamanan semakin asing, kebahagiaan begitu langka. Entah, semua memang terlihat buram, bahkan seperti ilmu-ilmu atau ajaran yang aku banggakan; agama, filsafat, dan sains teknologi.

“Kalau engkau mengerjakan sesuatu janganlah tanggung”, begitu kata seorang teman. Tapi apa yang bisa aku lakukan, minimal untuk hari ini, saat ini, atau untuk tahun ini. Sedangkan pikiranku selalu hanya bisa mencacimaki. Selain itu, paling-paling ngegosip seperti kebanyakan manusia sekarang. Padahal aku selalu niatkan, bahwa hidup itu harus bermanfaat, tidak bisa bagi orang lain paling tidak untuk diri sendiri. Aku selalu memikirkan itu, tapi hasilnya masih diragukan, (jangan pesimis kaliii…!

Ketika aku mentekatkan diri ‘sudah saatnya menjemput waktu’, aku merasa seperti orang sombong nomor satu. Padahal aku hanya manusia. Mungkin, ada sesuatu yang terus memaksa untuk seperti itu. Sudah semestinya. Sebagaimana yang dipikirkan Andrew Marvell; “di belakang, saya selalu mendengar kereta bersayap waktu berlari mendekat”. Kita di buru atau kita mau memburu. Dan kenangan adalah alasan yang tepat, mengubangi langkah-langkah kita sampai berganti letih.

Selalu ada kubangan hitam di kenangan. Terkadang kita lupa dan terlena. Termasuk aku sendiri. Pernahkan kita bersua dengan sepi, sunyi, air mata, dan barangkali pedihnya cinta? Tapi kita tak perlu resah, “air mata yang mengalir tidak selamanya buruk”. Terkadang kita butuh menangis, kalau memang sudah saatnya untuk menangis.

Manusia punya memori, setiap diri. Itu tidak bisa dipungkiri, adalah catatan hidupnya. Dari itulah, aku harus belajar. Aku harus berlari, bangun dan bangkit dari setiap keterpurukan. “bahkan tidak ada waktu bagi pengalaman yang tidak memperandaikan distingsi antara masa lampau dan masa depan”, begitu Carl Von Weizsacher berpendapat.

Aku yakin, kelak memoar itu akan termaknai. Ber-aroma bunga yang memikat setiap burung. Dan ia akan mengurai air mata merubah tawa. Sebab, hidup tidak sekedar mampir.

Elia…

Hari-hariku semakin tua. Semakin gemetar untuk menyatakan segala. Namun, aku percaya kau tetap menyimpan senyumku walau mulai pekat. Bila rindu tak mampu terbendung dengan seribu jalan, lalu bagaimana aku tak merangkai kata-kata, mengganti diam dalam harap tak berujung? Sedangkan keletihan hidup semakin melekat pada telapak tungguku. Meraut perasaanku sendiri, melulur luka dengan air cuka.

Sepesan hiruk pikuk hidup yang semakin pelik menggambarkan hati yang tak terbendung oleh getar. Dan kau tetap menemaniku. Menggetahkan badai dalam bara. Setelah selesai mengemas malam, gerak membuka sangka, menjadi kepak yang harus aku sapa. Dan kau di sana nyatakan lelap dalam mimpi. Sampai kudengar kalimat terakhirmu; “menghayati tatapmu merias luka….”

Elia…

Kealpaan masa-masa kita karena tak mau memaknai. Kita membiarkan bengkakan-bengkakan hasrat termakan waktu. Padahal kita yang seharusnya mendahului, sebelum waktu membakar emosi. Kita yang semestinya berteriak sebelum diteriaki.

***

Elia…

Bintang yang hancur di galaksi, tenggelam dalam lubang hitam. Dan lahirlah yang baru, yang lahir dari keterpurukan. Begitulah dalam teori termodinamika. Seperti bangunan, ketika sudah rapuh, maka kita harus membangun yang baru. Tetapi, terkadang kita lupa bahwa, untuk membangun yang baru selalu menguras energi yang ada.

Kata Jonh Barrow, “chaos ada dimana-mana”. Akupun meyakini hal itu. Walaupun yang baru terlihat lebih indah, tetapi tidak seindah yang sebelumnya. Karena keindahan tidak hanya ada pada mata, melainkan ada pada diri yang sebenarnya dan yang ada disekitarnya. Dan melainkan urusan rasa yang mengabadi di hati, ia tetap sejati. Mungkin selamanya….

Elia…

Sepenggal kenangan masih lekat. Selalu membuat aku tertera. Ia serupa bunga, memikat burung-burung. Ia serupa kupu-kupu, menyalin badai meraut kata-kata. Ia serupa bulan, memaksa manusia untuk katakan indah. Dan malam yang pekat pun ikut indah. Tapi ia juga bisa serupa pulau mati, yang menggambarkan tak ada kehidupan. Di sini, doaku pada Tuhan, pada alam, pada siapapun yang sanggup mendengarkan, “ampunilah segala dosaku, masa lampau yang suram dan masa kini yang masih belum jelas. Ampunilah segala… tapi tidak cintaku”.

Di sini, beribu orang sok bijak telah menyombongkan diri. Seakan dunia adalah penemuannya. Sehingga waktu tak begitu panjang untuknya. Hanya orang mabuk cinta yang terus melakukan perjalanan. Sebab ia melampaui segala. Cinta adalah lompatan dari sekian banyak dinding, ia mesteri yang suci, lebih suci dari ajaran apapun….

Secangkir teh manis dan rokok Djarum Coklat telah menemani suasana sunyi. Dimana gumamanku semakin menjadi. Semakin memaki…

Saat waktu menguasai, maka tak ada lagi untuk muda. Karena kita takkan kembali. Sehebat apapun fisika kita, waktu tetaplah bergulir dengan cepat.

Timoer Bandung, 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: