Metz Muntsani

"Kesunyian adalah teman sejati"

Pagi Yang Berbagi

Posted by metzz pada Juli 20, 2009

Time: 04.30 WIB

Pagi, tak terasa aku telah sampai pada pagi yang lain. Entah seberapa banyak pagi telah kulewati. Aku tak punya waktu untuk menghitungnya, terlalu melelahkan. Sebelum kunyalakan rokok dan menyeduh segelas kopi, kubuka jendela kamarku, barangkali angin pagi menyegarkan semangatku. Kata pepatah, “jemputlah matahari sebelum kau yang dijemputnya…” dan aku selalu berharap, mungkin pagi ini dapat menyelimuti segala mimpiku. Mungkin juga ada berita tentang waktu yang tak menjemukan.

Seteguk kopi dan sehisap rokok begitu terasa nikmat, serupa ruang yang dapat melenyapkan segala kepekatan. Kegaduhan. Tiba-tiba, ada yang bangun dalam hatiku. Dan seketika kamarku terasa senyap dan hampa. Tak tertahan, ia terus meronta. Dengan sedikit malu, aku menelepon seorang kawan. “Kawan, rindu itu mendatangiku. Memelukku. Dan aku tak bisa melepasnya…” Klik, telpon kumatikan seketika. Sedebar rindu dendam semakin menggelegar. Memetir segala kenangan yang seharusnya telah kutinggalkan jauh. Karena memang semestinya ditinggalkan.

Kabar terakhir, minggu kemarin ia datang, entah menemui siapa. Dalam harapku ia menemuiku. Aku telah mempermalukan diriku sendiri, yang seharusnya dan semestinya seorang laki-laki gagah dan bertampang perkasa. Tapi bagiku kesetiaan adalah keperkasaan yang paling sempurna. Ahhh, entahlah.

Lima menit kemudian seorang kawan nelpon balik. Ia mencoba menenangkan aku, mencoba mengerti apa yang seharusnya aku lakukan. “Tenang kawan…tidak ada yang tidak dapat terbunuh oleh waktu”. Mungkin ya. Semoga.

Kenapa ia menjadi sebuah kenangan?

Kemelut semakin kalut. Aku membujuk dan merayunya dengan baik. Aku menyapanya dengan penuh kelembutan dan kesungguhan. Dan ia telah meng-iyakan. Memadukan janji bersama. Meleburkan hasrat bersama. Meramu waktu bersama. Tapi, ia mengakhiri dengan tidak sama. Ia hilang. Seakan ia hanya menitip luka pada sebuah kisah. Ia hanya sekedar…

“Kak, jangan tinggalkan aku”

“Tidak akan”

“Aku tidak bisa berpaling pada yang lain”

“Aku lebih tidak bisa”

Kata hanya kau jadikan sebuah kata. Janjimu sekedar ramuan romantika belaka. Kebersamaan itu hanya semu. Dan kini aku harus merapih mimpi dan luka. Sudahlah, barangkali aku harus begini. Aku harus melulur retak di setiap langkahku. Padahal kau tak perlu pura-pura untuk menyatakan tidak. Tak perlu memulas senyummu dengan kebohongan. Aku perlu apa adanya, tidak lebih. Walau hatiku menggebu-gebu.

Entah kenapa aku harus mengabadikan. Menjaga tentang rasa itu. Barangkali tentang janji, tentang kau atau tentang aku. Bukan karena aku tak mampu membunuhnya. Semua ini bukan tentang yang semestinya dan seharusnya. Namun, aku tak mengerti saja.

Pagi ini adalah pagi yang berbagi. Dimana hati memerlukan empati dari nafas angin, aroma bunga, dan kicau burung. Kopi pahit tinggal seinci dan rokok telah habis berbatang-batang. Aku letih, karena ia terus menggodaku dalam kecamuk. Sebelum ia bersama orang lain, aku selalu setia mengkidungkan makna kasih. Melepuhkan cinta dengan seribu arti ketulusan. Sampai malam tak terasa sepi. Senyap. Pekat. Dan bercekam. Tentu aku bahagia. Kebahagianku ketika aku mampu membuatnya tersenyum. Membuat ia bermanja.

“Kak, belailah rambutku”

“Ya.” Sambil kukecup keningnya.

“Kakak sayang ngga ma aku?” pertanyaan yang terlalu sering aku dengar. Tapi aku senang.

“Sampai kapanpun aku selalu menyayangimu”

“Aku juga. Aku hanya ingin bersama kakak”

“Itu yang aku harapkan”

“Jangan tinggalkan aku ya”

“Tidak akan”

Sampai pada akhirnya kami saling berpeluk kasih. Sangat erat. Bertumpah getar kasih yang tak terhingga. Kami seakan saling mengutuhkan. Memang, aku telah mengutuhkan. Dan senyumnya telah merajut seluruh kasihku.

Setiap kubelai rambutnya, terngiang sebuah janji. Seperti pagi, yang selalu setia bersama kokok ayam, kupu-kupu, dan bunga. Dan butir embun, adalah mutiara air mata sunyi. Semua akan terbangun dari mimpinya, melestarikan semangat untuk senantiasa hidup. Kalau satu pagi terlewati, berarti telah kehilangan satu makna tentang hidup.

Desir angin pagi yang pelan, kutemui indah. Lembut. Dan merasuk dalam sendi-sendi tubuh. Akan tetapi, pagi ini, aku harus termangu. Terpaku pada gigil yang tak sempat terbalut oleh malam. Ini peristiwaku, mungkin juga tentang dia. Bila kenangan tidak sepahit kopi, entah bagaimana aku meneguknya. Sebab, begitu pekat.

Setiap orang pasti mengerti bagaimana mencinta. Bila bisik kawan itu serupa obat, “…tak ada yang tak dapat terbunuh oleh waktu”, maka aku bersiap untuk terbunuh. Walau ada getir, ada ketakutan di hati. Aku takut yang indah itu lenyap. Dan aku harus mengkantongi luka yang lain.

Pada pagi yang berbagi ini, bisikku sebagai pesan. Mungkin untuk aku, mungkin untuk dia. “Sampaikanlah rindu pada api, sampai aku tak pantas mengingat kembali…”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: