Metz Muntsani

"Kesunyian adalah teman sejati"

Filsafat Perennial 1

Posted by metzz pada Juli 23, 2009

Page 1 of 2

Historiografi Filsafat Perennial

Filsafat Perennial memiliki sejarah yang cukup panjang. Sebagai salah satu cabang filsafat yang sangat tua umurnya, kemunculan filsafat perennial dalam arti menyangkut saat atau kurun waktu tertentu serta oleh siapa saja yang merintisnya, tidak diketahui dengan jelas. Ada perkiraaan yang hampir pasti benar bahwa filsafat perennial ini mulai muncul dalam wacana intelektual manusia sejak zaman para pemikir pertama, namun tidak diketahui zaman apa itu, dan siapa saja yang tergolong para pemikir pertama tersebut.

Secara etimologis, Perennial berasal dari bahasa Latin, perennis, yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa inggris berarti kekal, selama-lamanya, atau abadi[1]. Istilah filsafat perennial diduga untuk pertama kalinya digunakan di dunia Barat oleh seorang yang bernama Agustinus Steuchus (1497-1548) sebagai judul karyanya, de perenni philosophia, yang diterbitkan pada tahun 1540. Istilah tersebut kemudian dipopulerkan oleh Leibnitz dalam sepucuk suratnya yang ditulis pada tahun 1715. yang membicarakan tentang pencarian jejak-jejak kebenaran dikalangan para filosof kuno dan tentang pemisahan yang terang dari yang gelap, sebenarnya itulah yang dimaksud dengan filsafat perennial (perenis quedem philosophia)[2].

Secara terminologis, Rahchman menemukakan pandangan bahwa filsafat perenial adalah sebuah filsafat, yang dipandang mampu menjelaskan segala kejadian yang bersifat hakiki, menyangkut kearifan yang diperlukan dalam menjalankan hidup yang benar, yang rupanya menjadi hakikat dari seluruh agama-agama dan tradisi-tradisi besar spriritualitas manusia.[3] Dengan filsafat inilah sebagai metode untuk memahami akan kompleksitas perbedaan-perbedaan yang ada.

Filsafat perennial (Philosophia Perennis) menurut definisi teknisnya adalah pengetahuan yang selalu ada dan akan selalu ada. Filsafat ini yang selalu bertahan, kesejatiannya diyakini dapat diwariskan dari generasi kegenerasi serta dapat melampaui kecenderungan filsafat yang datang silih berganti. Istilah Filsafat Perennial (Philosophia Perennis) kadang juga disebut “Kebijaksanaan Perennial” (Sophia Perennis), walaupun kedua kata tersebut tidak sepenuhnya identik, yang pertama lebih bersifat intelektual dan yang kedua lebih merupakan perealisasiannya.

Ananda Coomaraswamy, salah seorang pelopor filsafat perennial abad –20  memberikan pengertian filsafat perennial sebagai pengetahuan yang selalu ada dan akan ada yang bersifat universal. Pengertian ini terdapat didalam jantung semua agama dan tradisi, dan hanya bisa diperoleh lewat intelek. Intelek dalam kajian filsafat perennial merupakan hal yang cukup mendasar. Intelek (intelectus) tidak boleh dikacaukan dengan rasio (ratio) dalam pengertian umum. Rasio seperti sekarang dipahami merupakan pemikiran terhadap rencana roh dari intelek yang mampu mengetahui Tuhan dan bersifat Illahiyah dan sekaligus akses ke manusia sehingga mereka sadar siapa mereka.[4]

Jika dilihat dari segi makna, sebenarnya jauh sebelum Steuchus dan Leibnitz, agama Hindu telah membicarakannya dalam istilah yang disebut Sanatana Dharma. Demikian pula dikalangan kaum muslim, mereka telah mengenalnya lewat karya Ibn Miskawaih (932-1030), al-Hikmah al-Khalidah atau al-Hikmah al-Laduniayah (javidan khirad dalam bahasa Persia), istilah lain yang senada Agama Abadi (Religio Perennis), agama hikmah (religio cordis, al-Din al-Hanif), dan Sains Sakral (Scientia Sacra) yang  telah begitu panjang lebar membicarakan filsafat perennial.

Ibnu Miskawaih dalam karya tersebut banyak membicarakan pemikiran-pemikiran dan tulisan-tulisan orang-orang suci dan para filosof, termasuk di dalamnya mereka yang berasal dari Persia Kuno, India dan Romawi[5]. Aldous Huxley dalam bagian pengantar bukunya yang berjudul The perennial philosophy pun hanya memperkirakan bahwa butir-butir pemikiran filsafat perenial ini mulai di tulis sekitar dua puluh lima abad yang lalu, tetapi entah oleh siapa. Dalam bukunya ia menulis:

Suatu versi dari Faktor Umum Yang Tertinggi (Higghest Common Factor) ini dalam teologi yang terdahulu dan kemudian telah ditulis pertama kali sejak lebih dari dua puluh lima abad yang lalu, dan sejak itu, tema ini tidak habis-habisnya dibicarakan terus menerus, dari sudut setiap tradisi agama dan dalam semua bahasa utama di Asia dan Eropa[6].

Dalam A New Vision of Reality, Bene Grifith menyebut bahwa filsafat perenial ini boleh jadi dimulai muncul pada sekitar abad ke-6. namun kemunculan yang dimaksudkan Grifith adalah saat dimana filsafat perenial itu diakui keberadannya sebagai suatu sistem filsafat tertentu, jadi bukan pada soal saat lahirnya konsep-konsep filsafat perennial. Disamping itu soal siapa yang pertama kali memakai istilah filsafat perennial untuk memberi nama sistem filsafat tersebut masih mengalami perdebatan namun semua tokoh filsafat perennial setuju bahwa filsafat ini sejak kemunculannya tidak pernah hilang dari dunia intelektual masyarakat manusia[7].

Menurut Nasr secara historis bahwa realitas filsafat perenial tetap tertutup untuk masa yang sangat lama oleh aliran filsafat keduniawian yang lebih dominan di dunia Barat yang didasarkan pada gagasan tentang evolusi pemikiran dan “kemajauan” menuju kebenaran. Baru pada abad inilah –berkat ditemukannya kembali tradisi di dunia Barat dan bukti yang menyangkut adanya suatu doktrin Metafisika didalam intisari semua tradisi asli yang sekaligus bersifat abadi dan universal[8].

Tidak dapat disangkal bahwa perkembangan filsafat perenial ternyata mengalami dekadensi yang sangat panjang dengan munculnya aliran filsafat yang mendominasi kehidupan masyarakat dunia. Filsafat ini kemudian tenggelam didalam peradaban Barat, akibat dari dominasi filsafat keduniawian, suatu filsafat yang dibangun berdasarkan pandangan hidup sekuler-liberal-ultra liberal. Filsafat ini yang kemudian menghasilkan berbagai macam aliran pemikiran, seperti empirisme, rasionalisme, humanisme, eksistensialisme, materialisme, maxisme, kapitalisme, dan agnotisme.

Filsafat perennial hampir dianggap tradisi asing dalam dunia filsafat. Huston Smith membuat distingsi dua tradisi besar filsafat yang sangat kontras, yaitu: “Filsafat Modern” dan “Filsafat Tradisional”.[9] Filsafat tradisional atau yang lebih dikenal dengan filsafat perenial –selalu membicarakan mengenai adanya “Yang Suci”(The Sacred) atau “Yang Satu” (The One) dalam seluruh manifestasinya, seperti dalam agama, filsafat, sains dan seni. Filsafat modern justru sebaliknya yakni membersihkan “Yang Suci” dan “Yang Satu” dari alam pemikiran filsafat, sains dan seni.

Zaman Yunani dan abad pertengahan mengklaim dirinya sebagai “ratu dari ilmu-ilmu” sekarang menjadi bahan tertawaan para ilmuwan. Keberadaan filsafat yang oleh Huston Smith sebagai “Filsafat Tradisional” yang senang menyuarakan ke arifan –seperti yang terefleksikan pada arti semantik philosophia itu sendiri yang berarti “cinta kepada kearifan” sekarang malah sebaliknya, menjadi “benci kepada kearifan” atau misosophia[10] dalam bahasa Nasr.

Filsafat modern tampil sebagai bentuk pemberontakan terhadap pemikiran –pemikiran tradisional. Filsafat ini dianggap telah mereduksi spekulasi-spekulasi yang menyangkut masalah penting dari kehidupan manusia, menjadi pembicaraan yang dianggap ilmiah dalam arti positivis hanya karena bisa dibuktikan secara empiris. Dengan begitu bermunculan aliran-aliran baru dalam filsafat. Dalam menjajaki sejarah filsafat Barat modern yang diawali dengan gerakan Renaisans dan Reformasi.[11]

Lewat modernisasi yang dimulai di Italia pada zaman Renaisans manusia lebih menyadari sebagai individu yang merupakan subjek berkesadaran. Dalam filsafat, pernyataan Descartes yang termasyur adalah Cogito Ergo Sum (saya berfikir maka saya ada) ini berarti bahwa manusia bisa mengetahui kenyataan yang dengan rasionya sendiri. Sebagai bentuk kesadaran, modernitas dicirikan pada tiga hal, yaitu: subjektivitas, kritik, dan kemajuan[12]. Tiga bentuk kesadaran tersebut muncul abad ke-16 dan memuncak pada abad ke-18. Berbagai bentuk gerakan-gerakan sosial dan penemuan-penemuan itu juga melahirkan pemikiran-pemikiran yang berpusat  pada manusia sebagai subjektivitas membawa pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan kehidupan manusia di dunia.

Secara garis besar filsafat Barat ditandai oleh deskralisasi pengetahuan yang bersifat ketuhanan. Dengan begitu intusi yang menjadi sarana membawa manusia kepada Tuhanpun ditinggalkan. Filsafat menjadi benar-benar sekuler dan alam selanjutnya dikosongkan dari keberadaan Tuhan.

Dewasa ini, tema-tema filsafat modern  ditumbangkan oleh Post-modern yang ramai membicarakan “kelahiran” bukan hanya “kesadaran baru” tapi juga “zaman baru”. Heidegger menyatakan kesudahan filsafat modern berada dalam filsafat Nietzsche[13]. Gagasan-gagasan dasar posmodernisme seperti filsafat, rasionalitas, epistemologi dipertanyakan kembali secara sangat radikal. Menurut Sugiharto bahwa inti dari permasalahan yang dihadapi oleh filsafat dalam situasi postmodern terletak pada persoalan bahasa yang ditunjukan dalam bentuk metafor. Maka metaforisitas yang kemudian di gunakan sebagai paradigma untuk mencari jalan keluar dari kemelut postmodern.[14]

Aliran-aliran tersebut dipandang oleh para perenialis tak mampu memenuhi kebutuhan spiritual dan transendendal. Hal itu tidak berarti bahwa spiritual itu tidak ada melainkan manusia modern melihat segala sesuatu hanya dari sudut pandang pinggiran eksistensinya tidak pada pusat spiritualitas dirinya yang kemudian mengakibatkan berbagai krisis yang menyelimuti peradaban manusia modern. sehingga pengetahuan yang berkaitan dengan nilai-nilai kearifan perennial, yang dulu diutamakan dan menjadi sentral kini telah dimerosotkan dan direduksi hingga hampir tak berarti.

Sejumlah kritik yang dilancarkan oleh para perenialis kontemporer, Imanuel Wora misalnya dalam bukunya “Perennialisme, Kritik Atas Modernisme dan Posmodernisme” ia menawarkan kembali paradigma perenialisme sebagai jawaban atas segala bentuk krisis kehidupan yang kompleks dan bersifat global yang kemudian ia sebut dengan krisis lingkungan (environmental crisis)[15] yang diakibatkan oleh paradigma Modernisme dan Posmodernisme. Ia memandang segala sesuatu harus dilihat sebagai suatu keseluruhan yang bertumpu pada dasar yang sama, yakni sebuah realitas ultim, yang dalam tradis Barat dan Timur dikenal dengan Godhead (Kristen), Tao (Cina), Sunyata atau Kehampaan (Budhisme), Brahman (Hindu), Al-Haqq(Islam)[16]. Dalam hal ini ia mengatalkan bahwa “Modernisme dibalik semua kemajuan yang dibawanya telah ditemukan bermasalah terhadap keutuhan hidup dunia dan segala isinya. Tegasnya, modernisme berefek pada rusaknya keseimbangan tatanan ciptaan. Posmodernisme yang kemudian tampil mengkritisi modernisme pun tidak lepas dari problematikanya sendiri.”[17]

Oleh karena latar belakang pemikiran Barat yang sedemikian itulah maka pada awal abad 20, Coomaraswamy (m. 1947) dan Guenon (m. 1951) menawarkan gagasan alternatif untuk menghidupkan kembali nilai-nilai, hikmah kebenaran abadi yang ada pada tradisi-tradisi dan agama-agama. Nilai-nilai tradisi itulah yang kemudian mereka sebut Filsafat Abadi (Philosophia Perennis). Hal tersebut kemudian dianggap mampu menyadarkan manusia Barat Modern untuk mencari model-model kearifan tradisional, yang dipandang bisa menjelaskan kejadian-kejadian yang bersifat hakiki, sekaligus diperlukan dalam menjalankan hidup yang benar.

Dengan begitu diskursus filsafat perenial tersebut mengalami perkembangan kembali, dan secara hitoris filsafat ini tidak pernah mati, melainkan ia akan tetap hidup dalam tradisi-tradisi spiritual baik itu agama maupun kepercayaan-kepercayaan dan kini lebih diberi makna dalam konteks yang lebih luas. (bersambung…..)


[1] Komarudin Hidayat dan Moh Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan,Perspektif Filsafat Perennial. h.1.

[2] Lihat Pengantar Seyyed Hossein Nasr dalam buku Frithjof  Schuon, Islam dan Filsafat Perennial, h. 7.

[3] Lihat Budhy Munawar Rachman, Islam Pluralis, h. 79.

[4] Hamid nasuhi , Frithjof Schuon dan Filsafat Perennial, ddalam harian refleksi, vol. IV, no 2, 2002, hal 84.

[5] Komarudin Hidayat dan Moh Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan,Perspektif Filsafat Perennial, Paramadina, Jakarta, 1992. h.2

[6] Aldous Huxley, Filsafat Perennial, h.1

[7] Emanuel Wora, Perennialisme; Keritik atas Modernisme dan Posmodrnisme, h. 16.

[8] Lihat Pengantar Seyyed Hossein Nasr dalam buku Frithjof  Schuon, Islam dan Filsafat Perennial, h. 7.

[9] Lihat Budhy Munawar Rachman, Islam Pluralis, h. 80.

[10] Ibid h. 81-82

[11] Renaisans adalah gerakan massa, dan reformasi adalah gerakan kebudayaan. Kedua gerakan tersebut merupakan pasukan yang menghancurkan sistem kekuasaan abad pertengahan yang tampil dalam bentuk metafisika dan ontologi.

[12] Dengan subjektivitas dimaksudkan bahwa manusia menyadari dirinya sebagai subjectum, yaitu sebagai pusat realitas yang menjadi ukuran segala sesuatu. Lihat, F. Budi Hardiman, Filsafat Modern; Dari Machiavelli sampai Nietzsche, Gramedia, Jakarta, 2004. h. 3.

[13] Salah satu pemikir terbesar zaman modern. Gagasan-gagasannya memberontak kemapaman dan mengejutkan banyak kalangan. Ia melawan arus zamannya yang dikuasai oleh ketundukan pada otoritas agama dan ilmu. Ia berteriak sinis pada kekuasaan. Ketika banyak orang takluk dan menghamba pada negara.

[14] I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme Tantangan bagi Filsafat, h. 17.

[15] Emanuel Wora, Perennialisme; Keritik atas Modernisme dan Posmodrnisme h. 1.

[16] Ibid, h. 5.

[17] Ibid h. xi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: