Metz Muntsani

"Kesunyian adalah teman sejati"

KEADILAN 3

Posted by metzz pada Juli 23, 2009

page 3 of 4

Prinsip-Prinsip Keadilan Dalam Islam

Al-Qur’an sebagai manifestasi kalam Tuhan merupakan kitab petunjuk Moral yang komprehensif dan sempurna, datang dari Alam Ghaib untuk kebaikan manusia dan alam semesta (QS. al-Baqarah (2) : 2, 97 dan 185). Fitrah (suci) dan Hanif (lurus dan benar) merupakan dasar konstitusi kepribadian manusia, yang karena itu, ia merindukan tatanan kehidupan yang ramah dan damai, berdiri di atas prinsip-prinsip keadilan.

Puncak kasih sayang Tuhan atas manusia, terbukti dengan diutusnya para Nabi, yang di satu sisi mempunyi misi menyeru manusia kepada penyerahan diri, patuh-tunduk pada Tuhan Yang Maha Esa (Faham Tauhid) (QS. al-Ahzab 33 : 45-46), juga di sisi lain, berkaitan dengan semua Nabi, Tuhan menegaskan : “Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan telah kami turunkan bersma mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia bisa melaksanakan keadilan” (QS. al-Hadid (57) : 25).

Ayat tersebut menegaskan bahwa menegakan keadilan adalah tujuan dan misi utama kenabian. Dengan demikian terdapat dua tujuan utama misi kenabian, yaitu, mengajak manusia untuk menyembah Allah, sekaligus memberantas kemusyrikan, dan menegakkan keadilan di tengah-tengah masyarakat, sekaligus memberantas kedlaliman[1].

Merujuk pada ayat 25 surat al-Haadid tersebut, Murtadha Mutahari[2] menegaskan bahwa keadilan, dengan konsepsi sosialnya, merupakan tujuan kenabian (nubuwwah).

Nasehat Imam ‘Ali as. Kepada Gubernur Mesir, Muhammad Ibnu Abi Bakar; Para duta Illahi adalah para penegak keadilan yang sesungguhnya dalam masyarakat. Mereka adalah orang-orang yang telah merencanakan jalan kesempurnaan manusia bagi umat manusia[3].

Dengan kata lain, kesatuan umat, persaudaraan dan prinsip keadilan sosial ekonomi adalah unsur-unsur keadilan sebagian pengejawantahan dari sistem kepercayaan pada satu Tuhan (tauhidullah) : dalam al-Qur’an Allah dikatakan Maha Adil, dan bahwa dia menegakan keadilan atas dasar bahwa keadilan adalah sifat positif yang dimilikinya. Ditegaskan dalam al-Qur’an :

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلئِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Artinya: Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Ali Imran, 3: 14)

Ayat tersebut dengan jelas menegaskan bahwa Allah menyuruh berbuat adil atau bahwa Dia adalah Pelaku keadilan. Pernyataan ini merupakan persoalan asasi yang diatasnya agama-agama samawi membangun hubungan manusia dengan Allah. Kemudian, perintah Tuhan untuk mendirikan keadilan yang didasarkan atas kualitas monoteistik prinsip keesaan Tuhan yang sesuai dengan ajaran Islam (tauhid), dengan tegas dikatakan dalam firmannya :

Katakanlah “Tuhanku menyuruh menegakkan keadilan”. Dan (Katakanlah): “Luruskanlah muka (diri) mu disetiap sembahyang dan sembahlah Tuhanmu dengan mengikhlaskan keta’atan mu kepadanya. Sebagaimana Dia telah menciptakanmu pada permulaan (demikian pula) kamu akan kembali padanya (QS. al-A’raf (7) : 29).

Wahbah Zuhaily, mengenai kandungan ayat tersebut, mengatakan ayat itu mengandung perintah untuk menegakan keadilan dalam segala hal[4]. Lebih jauh mengenai keterkaitan tauhidullah dengan prinsip keadilan, banyak dijelaskan dalam al-Qur’an, bahwa Tuhan adalah Maha Adil, dan bagi manusia penegakan keadilan adalah tindakan persaksian untuk Tuhan: ”Wahai orang-orang yang beriman jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah …”(QS. An-Nissa (4) : 135).

Penegakan keadilan adalah merupakan manifestasi perbuatan yang paling mendekati taqwa atau keinsyafan ketuhanan dalam diri manusia. Seperti ditegaskan dalam al-Qur’an :

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menjalankan (keadilan) karena Allah menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian mu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adilah karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnay Allah Maha mengeahui apa yang kamu kerjakan (QS. al-Maidah (5) : 8).

Al-adl yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah barometer timbangan kebenaran-kebenaran yang diseimbangkan atau sikap menengahi kebenaran-kebenaran atas dasar hak kebenaran itu sendiri tanpa terhalangi oleh ikatan apapun. Seperti di tegaskan oleh Ahmad Musthafa al-Maraghy bahwa keadilan adalah timbangan bagi kebenaran[5].

Nurcholis Madjid menegaskan bahwa keadilan imani (pemutlakan terhadap Tuhan Yang Esa) terkait erat dengan ihsan, yaitu keinginan berbuat baik untuk sesama manusia dengan tulus, karena manusia bertindak dihadapan manusia dengan tulus, karena manusia bertindak dihadapan Tuhan untuk menjadi saksi baginya, yang segala sikap lahir dan bathin tidak pernah jadi rahasia dihadapannya[6].

Selanjutnya, prinsip syura (musyawarah) dalam Islam merupakan satu bentuk implementasi ajaran egaliter yang berorientasi pada penegakan keadilan. Egaliter sebagai satu paham kehidupan yang berdasarkan pandangan kesamaan derajat manusia, secara operasional tercermin pada prinsip syura yang dasar mekanisme kerjanya terletak pada “didengar” dan “mendengar”. Dalam konterks ini Nurcholis Majid menegaskan bahwa musyawarah mengandung makna mutuality, yakni hubungan timbal balik, dalam hal ini ialah hubungan saling memberi isyarat tentang apa yang benar dan baik[7]. Ditegaskan dalam al-Qur’an: “dan bermusyawarahlah kamu dengan mereka dalam urusan mereka” (QS. al-Imran (3) : 159).

Menyatakan kebenaran lewat musyawarah dengan mengindahkan hak dan kewajiban yang sama adalah merupakan salah satu makna keadilan yang erat hubungannya dengan ajaran persamaan. Persamaan keadilan yang dimaksud dalam kontek ini adalah persamaan yang didasarkan atas kesamaan kepemilikan hak dan mengakui keragaman perbedaan. Seperti ditegaskan Murtadha Muthahari persamaan keadilan yang dimaksud adalah memelihara persamaan keadilan yang dimaksud adalah memelihara persaman ketika hak memilikinya sama[8].

Kesamaan derajat manusia yang dilandaskan atas kualitas ketaqwaan, telah begitu kuatnya mengikat mereka dalam kesadaran moralitas persaudaraan secara masif dan universal. Seperti ditegaskan oleh Wahbah Zuhaily bahwa persaudaraan kemanusiaan, mewujudkan saling mengasihi manusia, perasaan cinta kebaikan, yaitu taqwa kepada Allah, melaksanakan hukum-hukumnya dan menjauhi larangannya, mendukung pertumbuhan secara menyeluruh bagi kemanusiaan[9].

Berdasar pengertian-pengertian tersebut, dapat ditegaskan bahwa di satu sisi pengertian keadilan sosial erat sekali hubungannya dengan ajaran persamaan, dan perbedaan di sisi lain. Hal yang sedemikian itu karena dalam pandangan al-Qur’an perbedaan sesama manusia adalah suatu hal yang alami, juga sekaligus mengandung banyak manfaat (QS. al-Hujurat (49) : 13). Sekalipun demikian manusia tetap tergolong ke dalam umat yang satu. Agama berfungsi untuk mengingatkan akan kesamaanya, sebagai landasan persahabatan, persaudaraan, dan tolong menolong dalam mewujudkan keadilan sosial.

Dalam sistem ekonomi, sosial, dan kultural yang rapuh itulah turun ayat-ayat yang menyuruh manusia untuk memperhatikan gejala kemiskinan, kesengsaraan dan penindasan yang melanda manusia secara masif saat itu. Harun Nasution, (1995 : 243) menegaskan, dalam keadaan itulah turun ayat-ayat yang mendorong orang berbuat baik terhadap golongan orang miskin serta yatim piatu[10].

Dalam Al-Qur’an, (QS. al-Fajr (89) : 18-20) menyatakan tiga sikap ketidak pedulian terhadap kehidupan sosial : (1) sikap tidak peduli pada orang-orang miskin, (2) sikap ketidakadilan dan penyelahgunaan harta pustaka, (3) ketamakan terhadap harta benda. Ketidakpedulaian sosial yagn digambarkan dalam ayat tadi disebabkan oleh persepsi moral spiritual manusia yang tumpul.

Kembali pada masalah pokok, tentang “keadilan sosial”, bukan dalam bentuk keharusan penyamarataan hak milik setiap orang, tapi agar tidak terjadi suasana ketimpangan, dimana sebagian yang lain hampir-hampir tak memiliki fasilitas untuk hidup. Alija Ali Izetbegovic menegaskan, tindakan-tindakan sosial Islam terbatas hanya dengan tujuan menghapuskan kesengsaraan, dan tidak diperluas sampai tahap keharusan penyemarataan hak milik setiap orang. Karena menurut Islam pembenaran moral dan ekonomis terhadap keadaan ini meragukan[11].

Pengertian keadilan yang termanifestasikan dalam berbagai pengetian, baik yang lahir (eksoteris) maupun yang batin (esoteris), seperti halnya; kepercayaan pada TuhanYang Esa, persamaan derajat manusia, hingga keadilan dalam bentuk materi yang banyak berhubungan dengan keadilan sosial, mempunyai makna dasar “setengah atau seimbang”. Maka pikiran dasar keadilan ialah keseimbangan (al-Mizan), yaitu sikap tanpa berlebihan, baik ke kanan atau ke kiri. Keseluruhannya berkait erat dengan keadilan sebagai ketetapan hukum kosmos dan hukum Tuhan dalam sejarah (sunatullah).

Atas dasar pengertian tersebut, maka keadilan diartikan sebagai “meletakan sesuatu pada tempatnya”, dan sebaliknya kezaliman, bermakna sebagai “meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya”.

Kemudian hubungan prinsip-prinsip keadilan sosial dengan keadilan sebagai sunatullah masih berkait dengan pembicaraan keadilan sebagai hukum kosmos. Maka siapapun yang memahami dan mengikuti aturan keseimbangan dalam beragam keadilan akan beruntung, dan siapapun yang melanggarnya, sekalipun karena ketidak tahuan akan merugi. Yang sedemikian  itu karena semuanya merupakan ketentuan hukum Allah untuk sejarah manusia dalam bermasyarakat dan bernegara. Firman Tuhan : “Begitulah sunnatullah bagi mereka (umat manusia) yang telah lewat sebelumnya (dalam sejarah). Dan keputusan hukum Allah itu adalah suatu kepastian yang sepasti-pastinya” (QS. al-Ahzab (33) : 38).

Untuk itu dapat ditegaskan bahwa prinsip-prinsip keadilan yang dimaksud adalah aturan-aturan atau hukum keseimbangan yang termanifestasi dalam bentuk keadilan yang beragam hukum kosmos dan ketetapan sunnatullah. (bersambung….)


[1] Zulkabi dkk, Konseptual dan Kontekstual, Cet. 1, Itqan, Bandung 1993, hlm: 34

[2] Murtadha Muthahari, Keadilan Ilahi, terj. Agus Efendi, Cet. II, Mizan, Bandung 1995 , hlm: 47

[3] Sayyid Mutjaba Masavi Lari, Psikologi Islam, terj. Satrio Pinandito, Cet. I, Pustaka Hisayah, Jakarta 1993, hlm: 102

[4] Wahbah Zuhaily, Al-Tafsir al-Munir, Cet. 1, Juz VII, Dar al-Fikr al-Ma’ashir, Beirut 1991, hlm: 175

[5] Ahmad Musthafa al-Maraghy, Tafsir al-Maraghy, Juz VI, Musthafa al-Baby al-Halby, Mesir, hlm: 64

[6] Nurcholis Madjid, Islam; Doktrin dan Peradaban, Cet. 2, Yayasan Wakaf Paramadina, Jakarta 1992, hlm: 115.

[7] Nurcholis Madjid, Pintu-pintu Menuju Tuhan, Cet. 1, Yayasan Wakaf Paramadina, Jakarta 1994, hlm: 253

[8] Ibid, Murtadha Muthahari, hlm: 56

[9] Wahbah Zuhaily, Al-Qur’an Paradigma Hukum dan Peradaban, terj. Mohammad Luqman Hakiem dan Muhamad Fuad Hariri, Cet. 1, Risalah Gusti, Surabaya 1996, hlm: 114

[10] Harun Nasution, Islam Rasional, Cet. I,  Mizan, Bandung 1995, hlm: 243

[11] Alija Ali Izetbegovic, Membangun Jalan Tengah, terj. Nurul Agustina, Farid Gaban, Putut Wijarnoko, Ihsan Ali Fauzi, Cet. I, Mizan, Bandung 1992, hlm: 207

Iklan

Satu Tanggapan to “KEADILAN 3”

  1. andreas said

    aaghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhvjua9yaoaama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: