Metz Muntsani

"Kesunyian adalah teman sejati"

Pesan Profetik Dalam Naskah Drama Tinjauan Pedagogigs

Posted by metzz pada Juli 23, 2009

page 1

Kajian Pesan profetik

Kalau membicarakan pesan dakwah dalam naskah atau teks apalagi dalam sebuah karya seni apapun tentu tidak lepas dari pengertian pesan itu sendiri, yaitu; gagasan atau ide yang disampaikan komunikator kepada komunikan untuk tujuan tertentu.[1]

Jadi pesan dakwah adalah sebuah gagasan-gagasan kebenaran, idealisme kebaikan atau ajaran-ajaran yang disampaikan agar komunikan dapat dipengaruhi olehnya. Materi untuk mempengaruhi tersebut adalah materi dakwah itu sendiri. Dengan materi tersebut dasar maksud komunikator adalah untuk memberikan penerangan, mempengaruhi, mendidik bahkan memaksa.[2] Sebagai umat Muslim tentu pengaruh tersebut adalah ajakan untuk lebih beribadah kepada Allah, amar ma’ruf nahi munkar serta beriman kepada Allah.

Jika yang dimaksud pesan seperti yang dikatakan oleh Jalaluddin Rahmad untuk mempengaruhi orang lain, maka kita harus menyentuh motif yang menggerakkan atau mendorong perilaku komunikate.[3] hal ini dilakukan agar bahasa dalam message  appeals (imbauan pesan) yang dilakukan tepat dan betul-betul berdasar dari emosi bukan pemikiran semata.[4]

Sehingga bahasa sangatlah penting untuk dikaji, karena selain penguasaan dan penangkapan dari komunikan melalui pesan yang verbal maupun non verbal keduanya dapat lahir dari pilihan bahasa yang digunakan komunikator. Sementara naskah yang merupakan rangkaian tulisan pada sebuah benda diantaranya kertas atau buku yang kemudian menjadi teks, maka pesan nonverbal atau yang verbal kembali menjadi non verbal akibat pemberian arti oleh masyarakat yang cenderung arbitrer (semaunya) bahkan oleh kelompok-kelompok social.[5] Bahkan pesan linguistic tak jarang mengakibatkan dampak besar terhadap masyarakat; konflik agama, penyimpangan keyakinan, dekadensi moral dan lain sebagainya. Hal itu dikarenakan pesan yang lahir dari bahasa atau pesan lingistik-nya, memberikan pemahaman yang berseragam sedangkan bahasa pada hakekatnya menjelmakan sebuah kebudayaan seseorang, bahasa merupakan medium tanpa batas yang membawa segala sesuatu di dalamnya.[6]

Karena naskah adalah teks dan teks terdiri dari bahasa, maka disitulah pentingnya hermeneutika sebagai interpretasi pada ilmu-ilmu kemanusiaan. Yang tentunya di dalamnya terdapat pesan-pesan yang diinginkan dari sang penulis (baca komunikator). Melalui bahasa kita berkomunikasi, tetapi melalui bahasa pula kita bisa salah paham dan salah tafsir. Arti atau makna dapat kita peroleh tergantung factor-faktor : Siapa yang berbicara, keadaan khusus yang berkaitan dengan waktu, tempat ataupun situasi yang dapat mewaranai arti peristiwa bahasa.[7]

Tapi kita tidak berbicara bahasa dalam cakupan hermeneutika an sich, karena dalam hal ini teks dihadirkan dengan sisi arbitrasinya, hal itu dilakukan agar tidak melebar pada pembacaan teks prspektif antropologi, historis ataupun geografis. Terjadinya pembatasan kajian lebih dikarenakan untuk menghindari interpretasi yang melebar dan bertele-tele. Dicukupkan pada kajian bahasa saja yang mana di dalamnya ada tatanan bahasa yang meliputi tiga unsure; fonologi, sintaksis, dan semantic[8] yang dalam ilmu bahasa merupakan wilayah kajian semiotika. Sistem bahasa dihadirkan sebagai simbol, sehingga dari kepelikan itu terjadi proses komunikasi yaitu pengiriman pesan dari sistem syaraf sesorang kepada sistem saraf orang lain dengan maksud untuk menghasilkan sebuah makna yang sama dengan yang ada dalam benak si pengirim.[9]

Kemudian dapat kita fahami pesan verbal melakukan fungsinya sebagaimana tersebut melalui kata-kata yang merupakan unsure dasar bahasa dan kata-kata merupakan simbol verbal dari pesan[10] dan sebagai pesan non verbalnya tentu tafsir personal yang ada di kepala tiap pembaca sebagai komunikan (mufassir).

Sementara dalam bahasan kali ini pesan dakwah lebih dimaknai terpenuhinya materi-materi dakwah yang termanifestasikan lewat etik profetik yang mengacu kepada firman Allah yang sangat umum bagi umat Islam, karena ayat ini adalah ayat dakwah yang membahas dari seluruh element kehidupan manusia atas kewajiban-kewajibanya sebagai khalifah di muka bumi. Yaitu surat Ali ‘Imron; 110:

كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر

وتؤمنون بالله ……

Artinya:  “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah dari kejahatan, dan beriman kepada Allah …. “[11]

Sehingga dari pernyataan Allah tersebut akan ditemukan idealisasi kehidupa manusia yang kaafah,[12] menurut Kuntowijoyo materi dakwah yang terdapat dalam ayat tersebut juga untuk menemukan kesempurnaan dalam kesenian Islam. Karena kesenian Islam tidak ‘untuk mengajak’ tapi bersama-sama menjadi manusia yang kaafah tersebut. Dalam kesenian Islam yang ideal dan profetik haruslah terdapat tiga unsur[13] yang juga merupakan tipe ideal manusia yang telah memenuhi kebaikan (amar ma’ruf), tidak melakukan larangan (nahi munkar) dan senantiasa beriman (tukminuna billah) Etik profetik tersebut adalah:

  1. Humanisasi (amar ma’ruf)

Humanisasi lebih mendekati kepada bahasa amar ma’ruf yang di dalamnya membahas materi-materi akhlaqul karimah yang tentu saja makna akhlak disini sangat komplek, bisa akhlak kepada orang tua, diri sendiri, pemerintah, guru, alam dan lain sebagainya. Termenuhinya akhlak-akhlak manusia yang lebih baik, maka kebaikan akan terbangun di muka bumi.

Pada awal berdirinya Islam atau bahkan sebelum lahirnya manusia suci Muhammad hancur dan jatuhnya manusia disebabkan oleh watak-watak egosentrisme (individual kolektif), agresivisme (individual kolektif) dan syahwat. Hingga pada abad modern teknologisasi dan massifikasi adalah wujud dari kedua watak selanjutnya.

Maka tugas kemanusiaan seni ialah humanisasi atau penyempurnaan akhlak. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa manusia dapat jatuh ke tempat yang paling rendah (asfala safilin; QS. Attin (95);5). Tugas mengangkat kembali manusia dari kejatuhan itu bisa dikerjakan melalui media lain, seperti agama, moral, dan filsafat. Kali ini yang kita inginkan ialah supaya melalui simbol-simbol seni, manusia dapat diangkat kembali ke fitrahnya sebagai makhluk yang sebaik-baiknya, semulia-mulianya dan bermartabat manusia.

  1. Liberasi (nahi munkar)

Selanjutnya manifestasi pesan dakwah dalam etik profetik adalah liberasi, dimana di dalamnya membahas tatanan hidup untuk menuju yang lebih baik, liberasi ini dalam materi dakwah lebih kepada syari’ah atau dalam petikan surat Ali imron saebagai nahi munkar. Melarang kemunkaran tidak hanya kemunkaran dalam arti sempit tapi lebih kepada pemaknaan tercapainya tatanan (hokum manusia) yang lebih baik. Terpenuhinya hak-hak sebagai manusia seutuhnya.

Sehingga liberasi yang lebih dekat dengan bahasa nahi munkar berarti pembebasan ekonomis, politik, dan sosial-kultural. Artinya terdapat kemunkaran yang lebih luas yaitu secara ekonomi yaitu eksploitasi eksternal (antar bangsa) dan internal (penjajahan antar golongan, penjajahan antar kelas), secara politis ada kedzaliman (otoritarianisme, pelanggaran HAM) dan karena secara sosial-kultural ada diskriminasi (rasial, etnis, gender,  pelecehan seksual). Dan semua itu akan dapat teratasi jika terjadai penegakan hukum yang riil, adil dan berpihak kepada masyarakat (umat)

  1. Transendensi (tukminuna billah)

Trnsendensi lebih mendekati kepada kata iman atau keimanan yaitu aqidah. Dalam dakwah yang dimaksud iman tentu dalam arti yang sangat luas. Ketika berdakwah da’i tidak mencetak keimanan yang introfet, egois dan individual. tapi keimanan adalah bentukan mental yang nanti berhadapan dengan banyak ideology; materialisme, sekulerisme dan lain sebagainya sebagai ciri khas abad manusia modern.

Sementara kata transendensi berasal dari bahasa latin transcendere yang berarti “naik ke atas”, atau dari bahasa Inggris transcend yang artinya “menembus”, “melewati”, dan “melampaui”. Dalam teologi Islam transendensi artinya “percaya kepada Allah”, “percaya kepada yang serba ghaib”, “percaya kepada kitab Allah” dan “percaya kepada hari akhir” (QS. Al-Baqarah (2);34). Jika transendensi diterapkan tidak hanya pada ruang sempit ritualitas belaka maka akan menjadi sumbangan Islam yang penting kepada dunia modern, sebab dengan agamalah orang bisa memanusiakan teknologi. (bersambung….)


[1] Endang  S. Sari, Audience Researc. (Yogyakarta: Andi Offset, 1993), hlm: 25

[2] Ton Kertapati, Dasar-Dasar Publisistik, (Jakarta: Bina Aksara,1981), hlm: 88

[3] Jalaluddin Rahmad, Psikologi Komunikasi (Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 1996) hlm: 298.

[4] Ibid.

[5] Ibid. hal. 269

[6] E. Sumaryono., Hermeneutika, Sebuah metode Filsafat. (Yogyakarta, KANISIUS, 1999) hlm: 28.

[7] Ibid. Hlm: 29-30

[8] Jalaluddin Rahmad. Psikologi, hlm: 269

[9] Alex Sobur. Analisis Teks, hlm: 41

[10] Ibid, hlm: 42

[11] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahanya, (Jakarta:CV. Thoha Putra, 1989), hlm: 94

[12] Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa, telaah atas Metode Dakwah Walisongo. Bandung, Mizan, 1995.) hlm: 168.

[13] Kuntowijoyo, Op. cit., hlm: 257-259

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: