Metz Muntsani

"Kesunyian adalah teman sejati"

Puasa, jalan damai Bersama

Posted by metzz pada Oktober 4, 2009

Puasa adalah proses berbenah diri dalam segala dinamika kehidupan kemanusian dan ketuhanan. Dengan berbenah diri lewat puasa, orang akan mudah kembali kefitrahnya, yaitu menjadi diri sekaligus hamba Allah yang sejati. Bahkan berbenah diri melalui puasa, orang bisa menemukan sifat-sifat Allah dalam kepribadiannya. Rasulullah bersabda: “Carilah sifat-sifat Allah Swt. itu dalam dirimu sendiri”.

Berbenah dari keagungan puasa akan mengantarkan kita menjadi hamba yang sabar dan tenang; tidak mudah curiga, tidak gampang menuding, tidak main hakim sendiri, tidak serampangan bereaksi ‘membesarkan’ hal-hal kecil, tidak mampu untuk melakukan segala kejahatan, tidak cepat mementahkan perilaku sosial kemanusiaan sesama, tidak tendensius menafsirkan tradisi dan ajaran agama lain, atau “tidak” terhadap segala hal yang negatif dan cenderung destruktif. Apalagi kalau diwujudkan dengan anarkhisme, sungguh tidak terpuji. Maka pencerahan secara kultural, pilihan strategis yang mendesak ditransformasikan.

Dengan ini, puasa adalah jalan damai yang dapat meredakan segala egoisme dan lebih mengedepankan nilai-nilai sosial. Di dalam puasa perkara menahan rasa lapar dan haus merupakan hal biasa, tetapi yang primordial dari puasa adalah bagaimana kita mampu menyadari dan mengangkat sensitifisme diri akan hak dan kewajiban kemanusian. Selain penyucian diri yang terus diasah juga bagaimana kita tanggap terhadap sesama sebagai makhluk sosial. Artinya puasa merupakan ibadah penyadaran diri dan eksistensi seorang hamba Allah Swt. Dan pada akhirnya perbedaan pun akan terasa sangat indah, bukan sesuatu yang harus diresahkan apalagi dirisaukan.

Percekcokan, konflik horizontal, diskriminasi religius, dan berbagai fakta sejenisnya, disadari atau tidak, ikut berperan atas retaknya sosial, kemanusiaan dan keberagamaan. Ini bukti bahwa pola kehidupan kita masih belum diwarnai kesabaran dan ketenangan. Adapun kesabaran dan ketenangan hanya dapat ditempa melalui puasa. Puasalah yang akan melatih kita untuk selalu tenang dan sabar.

Pada bulan Ramadlan, umat Islam dengan ragam mazhab di dalamnya, senantiasa mendengungkan agar setiap elemen masyarakat bisa menjaga kesucian Ramadlan. Bahkan, sweping besar-besaran oleh sebagian kelompok umat Islam, sering dilakukan hanya karena pemaknaan atau kehawatiran berlebihan yang kurang berdasar. Sehingga, agama selalu diidentikkan dengan kekerasan dalam berbagai variannya dan tanpa ditawari solusi terbaik secara sosial. Dengan kata lain, egoisme religius masih menjalar tanpa sedikit pun disadari sebagai faktor penghambat kebersamaan dalam hidup dan jalan kemenangan hakiki. Seharusnya, apapun keragaman masyarakat kita dapat disikapi dengan arif dan saling menghormati. Jangan sampai kita menuntut orang lain menghormati kita tetapi kita sendiri tidak mau menghormatinya.

Dangkalnya dalam memahami puasa Ramadlan akan melahirkan pemikiran yang pincang dan tindakan yang tidak seharusnya dilakukan secara sosial. Bahkan juga, secara individul, banyak sekarang kejahatan terjadi di akhir bulan Ramadlan, seperti penipuan dikerumunan para pemudik dan sejenisnya. Para pelaku kejahatan itu beralasan tidak punya uang untuk menyambut Idul Fitri, dan sudah pasti mereka tidak memahami puasa secara hakiki. Padahal, Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh dengan puasanya dari makan dan minum.” Sabda Nabi juga: “Ibadah puasa merupakan salah satu sarana penting untuk mencapai takwa, dan salah satu sebab untuk mendapatkan ampunan dosa-dosa, pelipatgandaan kebaikan, dan pengangkatan derajat. Allah telah menjadikan ibadah puasa khusus untuk diri-Nya dari amal-amal ibadah lainnya”.

Dengan itu, Puasa Adalah jalan, dan diri kita-lah yang mampu memanfaatkan jalan tersebut menuju ketenangan dan kesabaran sehingga mendapatkan kemenangan dan kefitrian. Sedangkan kefitrian tanpa ketenangan dan kesabaran dalam menjalani ibadah kepada Allah Swt. tidak akan didapatinya. Dalam sebuah hadits, “Sesungguhnya engkau mempunyai dua tabiat dan kelakuan yang disukai oleh Allah Swt. yaitu sabar dan ketenangan”.

Benarkah kita sudah sabar menjalankan segala kewajiban kepada Allah Swt.? Sudah pantaskah kita menerima kemenangan dan fitrinya diri sebagai hamba Allah Swt. sehingga kedamaian didapati dalam hidup kita?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: