Metz Muntsani

"Kesunyian adalah teman sejati"

Kematian Agama

Posted by metzz pada Oktober 11, 2009

Di Sekitar Evolusionisme

“Suatu agama merupakan agama yang kuat kalau dalam ritualnya dan dalam cara berpikirnya memberikan suatu visi yang menggerakan hati. Kebaktian kepada Tuhan bukan jalan untuk mencari rasa aman, melainkan suatu petualangan roh, suatu usaha untuk menggapai yang tak tergapai. Kematian suatu agama datang bersamaan dengan terjadinya represi terhadap harapan tinggi akan suatu petualangan”

—Alfred North Whitehead, Science and Modern World

“Sifat khas kebenaran agama-agama adalah bahwa kebenaran tersebut secara eksplisit berkaitan dengan nilai-nilai. Kebenaran itu menyadarkan kita akan aspek yang tetap dari alam semesta yang dapat kita pandang bernilai. Oleh kerenanya kebenaran tersebut memberi suatu makna, dalam arti nilai, pada eksistensi kita, suatu makna yang mengalir dari hakikat kenyataan sendiri”

—Alfred North Whitehead, Religion in the Making

Cartesian-Newtonian: Peradaban Menuju Evolusionisme Dan Kematian Agama

Rasio Cartesian-Newtonian[1], sebagai corak yang khas bagi modernisme[2]—pada perkembangannya—menjadikan subjektivitas tunggal yang kuat, dan menjadi tulang punggung dalam perkembangan sains modern di Barat. Positivisme yang dikembangkan oleh August Comte memiliki beberapa ciri: a). Bebas Nilai. Dikotomi yang tegas antara fakta dan nilai mengharuskan subjek peneliti mengambil jarak dengan semesta dengan bersikap imparsial-netral; b). Fenomenalisme. Semesta fenomena yang kita persepsi. Pengetahuan yang absah hanya berfokus pada fenomena semesta. Metafisika yang mengandaikan sesuatu dibelakang fenomena ditolak mentah-mentah; c). Nominalisme. Positivisme befokus pada yang individual-partikular karena itu kenyataan satu-satunya. Semua bentuk universalisme adalah semesta penamaan dan bukan kenyataan itu sendiri; d). Reduksionisme. Semesta direduksi menjadi fakta-fakta yang dapat dipersepsi; e). Naturalisme. Faham tentang keteraturan peristiwa-peristiwa di alam semesta yang menisbikan penjelasan adikodrati; f). Mekanisme. Faham yang mengatakan bahwa semua gejala alam dapat dijelaskan secara mekanikal-determinis seperti layaknya mesin[3].

Positivisme adalah sebagai simbol dari epistem Cartesian-Newtonian yang “gagah”, pada akhirnya telah mereduksi kekayaan batin jadi seonggok ucapan yang tak lagi terperhatikan[4]. Sesuai dengan diktumnya yang terkenal “Savoir pour prevoir, prepoir pouvoir”, dari ilmu muncul prediksi, dari prediksi muncul aksi, menjungjung tinggi sekali kedudukan ilmu pengetahuan dan sangat optimis dengan peran yang dapat dimainkan bagi kesejahteraan manusia, kemajuan sains berimbas pada perlombaan mekanisasi realitas dan rekayasa sipil, sehingga tak terhindarkan persaingan senjata dan perangpun merengkuh dunia[5].

Dari keterpurukan ini, muncullah segugus gagasan untuk, yang pada awalnya Positivisme ingin menata kembali masyarakat dengan berasaskan teologi dan filsafat tertentu, kini restorasi itu dibalik, yakni masyarakat harus dibebaskan dari kungkungan teologi dan filsafat. Misi gagasan ini adalah administrasi masyarakat secara rasional harus dilandasi pada pengetahuan yang berkesatuan. Dan hanya bisa dicapai apabila dikembangkan suatu bahasa ilmiah yang berlaku pada semua bidang ilmu pengetahuan.

Maka gagasan ini kemudian disebut dengan Positivisme-logis. Yang menjadi perbedaan di antara madzhab ini dengan pendahulunya adalah konsentrasi pendahulunya pada bidang pengaturan sosial pada masyarakat secara ilmiah, dan adanya gerak evolutif dalam alam, sedang madzhab ini memfokuskan diri pada logika dan bahasa ilmiah. Baginya, filsafat harus menjadi hamba ilmu pengetahuan, dan tugas pokoknya adalah melakukan kajian tentang metodologi ilmu pengetahuan dan melakukan penjernihan konsep-konsep ilmiah[6].

Perjalanan problematika libido “metode ilmiah” tak pernah pudar dengan berbagai hujat fakta anomali. Sains, menggelinding bagai roda pedati—karena sains mengikuti rasio Cartesian-Newtonian di atas—meninggalkan religiusitas. Sains menjadi orang baru dari perkembangan zaman yang terpisah, terburai dari agama sebagai fakta anomali yang metafisik. Hal ini tampak dalam inkuisisi atas Galileo, di mana ia harus tunduk atas otoritas gereja, untuk meninggalkan ‘ajaran sesat’ heliosentrisme Copernikan yang bertentangan dengan Gereja, di mana Injil ditaruh di tangan kanannya.

“Survival of the fittest”, diktum yang nampak tak asing lagi bagi para penggiat sains dan filsafat, bahkan, bagi ‘pesoleh’ agar bisa preventif menghadang jalan bagi ‘kereta pikir via patas’ ala materialisme tersebut. Diktum yang keluar dari buku The Origin of Species karya Charles Darwin telah mengguncang ‘konstruk-nalar’ religi, yang pada umumnya percaya bahwa penciptaan berasal dari suatu desain mutlak Tuhan. Namun tidaklah demikian bagi Darwin. Baginya, seperti dikutip Ian G. Barbour, makhluk dalam penciptaan adalah hasil dari suatu proses seleksi alam yang panjang. Di bawah kondisi kompetitif, individu-indivdu dengan sejumlah keuntungan adaptif akan mampu bertahan hidup dengan lebih baik sehingga dapat melahirkan keturunan dan meneruskan keunggulan itu pada keturunannya. Menurut Barbour, teori Darwin, atau yang lebih dikenal dengan Teori Evolusi, tidak hanya menggerogoti versi dari argumen tradisional desain bahwa ciptaan berasal dari rancangan tertentu, Darwin juga menjelaskan sejarah alam dengan hukum-hukum alamiah yang nampaknya tidak memberi peluang bagi tuntunan penyelenggaraan Allah.[7]

Keith Ward mengatakan hal yang berbeda dengan Barbour. Menurutnya, Darwin sebenarnya tidak menemukan gagasan tentang evolusi, namun menjadi eksponen yang paling berpengaruh dengan gagasan ini, terutama yang berhubungan dengan evolusi kehidupan organis. Gagasan ini, lanjutnya, bagi banyak pakar biologi menyediakan kunci penjelasan tentang kompleksitas kehidupan binatang. Menurut Ward, pandangan kaum religi yang menolak karena teori Darwin bertentangan dengan kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian adalah salah. Menurutnya, gagasan bahwa Tuhan menciptakan bentuk-bentuk kehidupan melalui proses evolusi gradual tidaklah lebih sulit ketimbang gagasan bahwa penciptaan terjadi dengan seketika!

Apa yang ingin diajukan dalam teori seleksi alamiah tersebut adalah bahwa mutasi-mutasi yang terarah pada “perkembangan” atau “perbaikan” akan terjadi sedemikian rupa hingga organisme yang bermutasi akan lebih efisien dalam memproduksi diri dan kerenanya, akan cenderung bertahan dalam pertarungan demi kehidupan yang melenyapkan sebagian besar organisme lain. Bagi Ward hal ini adalah omong kosong, sebab klaimnya yang mengatakan bahwa hipotesis tentang Tuhan tidak dibutuhkan, ternyata tidak bisa mengungkapkan semua fakta dengan cukup baik, namun, lanjutnya, ini adalah pernyataan yang berani.[8]

Gagasan ini kemudian lebih lanjut bergerak dalam biologi revolusioner. Tuhan dipukul mundur! Darwin tertampar! Kebakaran jenggot!. Dalam pandangan yang melampaui teori seleksi ini, ternyata evolusi tidak hanya bergerak dengan seleksi alamiah fisikal, ternyata ada pada banyak wilayah. Biolog Inggris, Richard Dawkins, mengatakan bahwa evolusi, sang Desainer buta itu, dengan menggunakan Trial and error secara akumulatif bisa mencari ruang yang luas dari struktur-struktur yang mungkin…sifat kebetulan sendiri bukanlah semacam tukang pembuat jam. Tetapi, bersama dengan seleksi alam, faktor kebetulan yang berubah menjadi sejumlah-besar langkah kecil melalui waktu berabad-abad akan sanggup menghasilkan mukjijat-mukjijat seperti Dinosaurus dan diri kita sendiri.[9]

Bagi Dawkins, manusia bebas untuk melawan tirani gen-gen mereka. Dan apa yang membawa gen kepada manusia adalah “Mem” (meme). Mem adalah analog budaya dari gen yang bersifat biologi. Mem tidak berada dalam molekul-molekul DNA (deoxyribonucleic acid), tetapi pada konfigurasi saraf di otak manusia yang konon sebagai informasi yang meloncat dari otak ke otak melalui naluri tiru meniru manusia Mem itu bisa sederhana berupa potongan lagu atau kompleks berupa konfigurasi konsep, ideologi, mitos, dan lainnya.

Dawkins kini menjadi kekuatan baru dalam ‘dunia-penentangan’ atas iman. Iman adalah sampah, adalah “virus pikiran”. Keimanan adalah Mem dogmatik yang merambat dari satu otak ke otak lain, melalui khutbah dan upacara-upacara keagamaan yang diulang-ulang. Menurut Dawkins, Mem agama sekarang sedang dipukul mundur oleh Mem sains. Sebab, Mem sains akan menang karena lebih realistis.

Dengan memperluas gagasan kaum neo-Darwinisme yang menganggap mutasi gen sebagai mesin evolusi kebudayaan. Maka, sejarah manusia tidak lebih dari penggantian atau suksesi dari Memmem kompleks dari masa ke masa. Mem yang paling sesuai dengan lingkungan budaya manusia yang terus berubah itulah yang akan bertahan.[10]

Inilah kehidupan bagi selfish gene atau gen egois. Berbeda dengan Darwin, pemain utama dalam evolusi bukanlah individu organisme. Bukan juga moleku-molekul DNA (deoxyribonucleic acid) seperti kata kaum neo-Darwinis, melainkan gen yang merupakan potongan-potongan informasi dalam kromosom. Sel dan tubuh organisme adalah mesin-mesin perang yang bersaing satu sama lainnya. Begitu juga organisasi dan institusi adalah mesin perang dari mem yang bersaing satu sama lainnya.

Menyoal Agama Yang Telah Retak

Agama seolah menjadi sesak nafas, sosok algojo spiritual yang sakit asma. Klaim-hujjah yang begitu abstrak mengakibatkan banyak celaan di bawah tekanan masyarakat sains. Dan tak dapat disangkal pula, konflik intern yang mencuat akibat religi memasuki wilayah praksis politis, mengakibatkan ‘sejarah-darah’ yang berbicara[11]. Menurut Alfred North Whitehead, agama-agama telah kehilangan genggaman pengaruhnya atas dunia. Baginya, kemerosotan itu disebabkan pertama, stagnasi atau kemandegan yang menimpa kehidupan beragama. Kemandegan ini terungkap dari ikap konservatisme dan sikap defensif kaum agamawan dalam menghadapi perubahan-perubahan masyarakat yang diakibatkan oleh perkembangan sains dan teknologi. Kendati kaidah-kaidah dasar agama itu bersifat abadi, ungkapannya adalam perjalanan sejarah memerlukan perubahan dan penyesuaian. Bagi Whitehead, agama-agama melakukan bunuh diri kalau mendasarkan inspirasinya terutama pada dogma mereka. Karena masalah-masalah yang nyata dalam praksis hanya dapat dikaji dari pengalaman-pengalaman hidup yang konkret, maka pokok kehidupan beragama terletak dalam sejarah.[12]

Kedua, ketidaksesuaian antara gambaran Tuhan yang secaratradisional cukup banyak diberikan oleh agama-agama yang ada dengan gambaran manusia modern. Tuhan dalam pandangan tradisional sebagai Pencipta yang amat transenden, yang maha sempurna dan tetap tak berubah. Hal itu, bagi Whitehead bertentangan dengan aspirasi manusia modern yang sangat menghargai kebebasan dan nilai pribadi manusia. Jika Tuhan dipandang sebagai mahakuasa dalam segala hal, itu berarti bahwa tidak ada sesuatupun yang bisa terjadi di dunia ini yang tidak Dia kehendaki, maka ia pun harus bertanggung jab atas segala kerusakan dan tindak kejahatan. Konsep tersebut tuhan dikecualkan dari semua kategori metafisis yang berlaku untuk dunia ini, maka mengangalah sebuah jurang yang memisahkan Tuhan dari manusia dan dunianya.

Tak terkecuali hal senadapun datang dari Muhammad Arkoun, namun berdasarkan kritik historisisme. Dengan kritik historisnya, Arkoun menemukan karakteristik umum akal-akal islam. Pertama, ketundukan akal-akal kepada wahyu yang “terberi” (diturunkan dari langit). Wahyu mempunyai kedudukan dan posisi yang lebih tinggi, sebab dihadapan akal-akal itu ia memiliki watak transendentalitas (al-ta’ali, La trancendance) yang mengatasi manusia, sejarah dan masyarakat. Kedua, penghormatan dan ketaatan kepada otoritas agung. Imam mujtihid dalam setiap madzhab tidak boleh dibantah atau didebat, walaupun di antara para mujtahid sendiri terdapat banyak perbedaan bahkan perselisihan. Para imam mujtahid ini telah mematok kaidah-kaidah menafsirkan Al-Quran secara benar, termasuk istimbath hukum. Otoritas ini menjelma dalam sosok para imam madzhab. Ketiga, akal beroperasi dengan cara pandang tertentu terhadap alam semesta, yang khas abad pertengahan, sebelum lahirnya ilmu astronomi modern.[13]

Maka, bagi Arkoun, syarat utama untuk mencapai keterbukaan (pencerahan) pemikiran Islam di tengah kancah dunia modern adalah dekontruksi terhadap epistema ortodoksi dan dogmatisme abad pertengahan. Dari kritik historisnya, Arkoun juga mendapati bahwa tumpukan literature tafsir Al-Qur’an tak ubahnya seperti endapan lapisan-lapisan geologis bumi. Dalam konteks ini, secara radikal Arkoun menganggap sejarah tafsir sebagai sajarah penggunaan Al-Qur’an sebagai dalih:

Jika kita lihat khazanah tafsir dengan seluruh macam madzhabnya, kita akan tahu bahwa sesungguhnya Al-Qur’an hanyalah “alat” saja untuk membangun teks-teks lain yang dapat memenuhi kebutuhan dan selera suatu masa tertentu setelah masa turunnya Al-Qur’an itu sendiri. Seluruh tafsir itu ada dengan sendirinya dan untuk dirinya sendiri. Dia merupakan karya intelektual serta produk budaya yang lebih terikat dengan konteks kultural yang melatarinya, dengan lingkungan sosial atau teologi yang menjadi “payungnya” nya daripada dengan konteks Al-Qur’an itu sendiri.[14]

Menurutnya, pola hubungan yang terus-menerus antara teks pertama dan ekploitasi teologis dan ideologis yang begitu beragam terhadapnya yang dilakukan oleh berbagai latar kultural dan sosial yang berbeda itu, membuat teks kedua memiliki sejarahnya sendiri. Sejarah tafsir adalah sejarah pernyataan yang diulang-ulang, secara lebih kurang atau lebih bersemangat, mengenai sifat kebenaran, keabadian dan kesempurnaan dari risalah yang diterima dan disampaikan Nabi Muhammad. Dengan begitu, tafsir lebih bersifat “apologi defensif” daripada pencarian suatu cara memahami. Padahal, kata Arkoun, Al-Qur’an tidak membutuhkan suatu apologi guna menunjukkan kekayaan yang terkandung didalamnya.[15] Karena itu, berbagai literatur tafsir, di satu sisi, memang membantu mengantarkan kita untuk memahami Al-Qur’an; namun, di sisi lain, kadang malahan merintangi pemandangan kita dari Al-Qur’an. Lantaran sejarah tafsir yang “menggeologis” itulah, barangkali, Arkoun memandang Al-Qur’an sekarang lebih banyak menyebabkan kemandegan ketimbang pencerahan dan kemajuan:

Jadinya sekarang, Kalam Allah ditentang dan digagalkan oleh praktek masyarakat kita di masa kini; dihormati, namun pada kenyataannya dihalangi oleh kaum muslim, dan direduksi oleh pengetahunan ilmiah kaum orientalis menjadi kejadian budaya semata.[16]

Dalam konteks di atas, perlu segera dicatat bahwa yang dianggap tidak relevan atau memandegkan bukanlah Al-Qur’an, melainkan pemikiran yang dipakai oleh para teolog dan fuqaha dalam menafsirkan Al-Qur’an:

Saya tidak mengatakan bahwa al-Qur’an tidak relevan. Saya tidak berkata demikian. Harap berhati-hati. Yang saya katakan adalah bahwa pemikiran yang dipakai oleh para teolog dan fuqoha untuk menafsirkan Al-Qur’an tidak relevan. Sebab, sekarang kita ilmu baru seperti antropologi, yang tidak mereka kuasai. Kita juga memiliki linguistik baru, metode sejarah, biologi—semuanya tidak mereka kuasai.[17]

***


[1] Mengikuti Husain Heryanto, istilah paradigma Cartesian-Newtonian dalam makna yang lebih luas, tidak hanya berlaku pada komunitas ilmiah, melainkan bekerja pada masyarakat modern umumnya. Paradigma di sini suatu pandangan dunia (world view) atau cara pandang yang dianut secara pervasif dan terkandung di dalamnya asumsi-asumsi ontologis dan epistemologis tertentu, visi realitas, dan sistem nilai. Perbedaan pokok antara paradigma dengan pandangan-dunia adalah bahwa paradigma merupakan pandangan-dunia yang menjadi kesadaran kolektif yang dianut bersama oleh suatu komunitas, yang di sini maksudnya adalah komunitas masyarakat modern. Lihat: Heryanto, Paradigma Holistik; Dialog Filsafat, Sains, Dan Kehidupan Menurut Shadra Dan Whitehead , Teraju, Jakarta, 2003, h. 29.

[2] Menurut Yasraf Amir Piliang, konsep modernisme pada umumnya selalu dikaitakn dengan fenomena dan kategori kebudayaan, khususnya yang berkaitan dengan estetika atau gaya. Sedangkan konsep modern sering dikaitkan dengan penggal sejarah atau periodisasi. Sementara, konsep modernitas digunakan untuk menjelaskan totalitas kehidupan. Lihat Amir Piliang, Hipersemiotika; Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, h. 75.

[3] Lihat: Gahral Adian, Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan; Dari David Hume Sampai Thomas Kuhn, Teraju, Jakarta, 2002, h. 68

[4] Husain Heryanto membagi asumsi-asumsi paradigma Cartesian-Newtonian ke dalam beberapa bagian: 1). Subjektivisme-Antroposentristik, prinsip pertama ini merepresentasikan modus khas kesadaran modernisme bahwa manusia merupakan pusat dunia; 2). Dualisme, penganut paradigma ini membagi realitas menjadi subjek-objek, manusia-alam, dengan menempatkan superioritas subjek atas objek. Keterpilahan yang dikotomis ini adalah konsekuensi alamiah dari prinsip Descartes untuk menemukan kebenaran objektif dan universal, yaitu prinsip clearly (jelas) dan distinctly (terpilah); 3). Mekanistik-Deterministik, paradigma Cartesian-Newtonian ditegakkan atas dasar asumsi kosmologis bahwa alam raya merupakan sebuah mesin raksasa yang mati, tidak bernyawa, dan statis. Bahkan, bukan alam saja, segala sesuatu yang di luar kesadaran subjek dianggap sebagai mesin yang bekerja menurut hukum-hukum matematika yang kuantitatif, termasuk tubuh manusia; 4). Reduksionisme-Atomistik, pandangan kosmologis paradigma Cartesian-Newtonian telah meniadakan unsur-unsur kualitatif, simbolik, maknawi alam raya. Pada gilirannya, paradigma ini telah menggerus dan telah memiskinkan kekayaan dan pluralitas realitas sedemikian, sehingga hanya memiliki sebuah pandangan tunggal dan linier terhadap realitas; 5). Instrumentalisme, kebenaran suatu pengetahuan atau sains diukur dari sejauh mana ia dapat digunakan untuk memenuhi kepentingan-kepentingan material dan praktis; 6). Materialisme-Saintisme, meskipun Descartes dan Newton adalah orang yang percaya kepada Tuhan, namun pandangan epistemologi dan kosmologi mereka berwatak materialistik. Tuhan, bagi Descartes, lebih bersifat instrumental untuk penjamin kesahihan pengetahuan subjek terhadap realitas eksternal. Newton mempunyai pandangan bahwa Tuhan pertama-tama menciptakan partikel-partikel benda, kekuatan-kekuatan antar partikel, dan hukum gerak dasar. Setelah tercipta, alam semesta terus bergerak seperti sebuah mesin yang diatur oleh hukum-hukum deterministik, dan Tuhan tidak diperlukan lagi kehadiran-Nya dalam kosmos ini. Lihat: Husain Heryanto, Op.Cit, h. 43-52.

[5] Lihat: Sugiharto, efek pada taraf praksis dari modernitas yang berasaskan epistem rasio Cartesian mengakibatkan beberapa hal: 1). Pandangan dualistiknya yang membagi seluruh kenyataan menjadi subjek dan objek, spiritual-material, manusia-dunia, dan sebagainya; telah mengakibatkan objektivisasi alam secara berlebihan dan pengurasan alam semena-mena, yang telah mengakibatkan krisis ekologis; 2). Pandangan modern yang bersifat objektivistis dan positivistis akhirnya cenderung menjadikan manusia seolah objek juga, dan masyarakatpun direkayasa bagai mesin. Akibat dari hal ini adalah bahwa masyarakat cenderung menjadi tidak manusiawi; 3). Dalam modernisme ilmu-ilmu positif-empiris mau tak mau menjadi standar kebenaran tertinggi. Akibatnya adalah bahwa nilai-nilai moral dan religius kehilangan wibawanya. Alhasil timbullah disorientasi moral-religius, yang pada gilirannya mengakibatkan pula meningkatnya kekerasan, keterasingan, depresi mental, dst; 4). Materialisme. Bila kenyataan terdasar tak lagi ditemukan dalam religi, maka materilah yang mudah dianggap sebagai kenyataan terdasar. Materialisme ontologis ini didampingi pula oleh materialisme praktis, yaitu bahwa hidup pun menjadi keinginan yang tak habis-habisnya untuk memiliki dan mengontrol hal-hal material. Dan aturan main utama tak lain adalah survival of the fittest, atau dalam skala lebih besar: persaingan dalam pasar bebas. Etika persaingan dalam mengontrol sumber-sumber material inilah yang merupakan pola prilaku individu, bangsa dan perusahaan-perusahaan modern; 5). Militerisme. Oleh sebab-sebab norma-norma religius dan moral tak lagi berdaya bagi prilaku manusia, maka norma umum objektif pun cenderung hilang juga. Akibatnya, kekuasaan yang menekan dengan ancaman kekerasan adalah satu-satunya cara untuk mengatur manusia; 6). Bangkitnya kembali Tribalisme, atau mentalitas yang mengunggulkan suku atau kelompok sendiri. Ini sebetulnya hanya konsekuensi logis saja dari hokum survival of the fittest dan penggunaan kekuasaan koersif. Lebih celaka lagi, setelah perang ideologi selesai kini agama menjadi kategori identitas penting yang justru cenderung mendukung kelompok-kelompok yang saling bertengkar, dengan kata lain, justru mendukung tribalisme. Lihat: Bambang Sugiharto, Posmodernisme; Sebuah Tantangan Bagi Filsafat, Kanisius, Yogyakarta, 2003, h. 29-30.

[6] Lihat: Gahral Adian, Op.Cit, h. 71.

[7] Lihat: Ian G. Barbour, Menemukan Tuhan Dalam Sains Kontemporer dan Agama, Mizan, Bandung, 2005, h. 47

[8] Lihat: Keith Ward, Dan Tuhan Tidak Bermain Dadu, , Mizan, Bandung, 2003, h. 97-103.

[9] Lihat: Mehdi Golshani, Melacak Jejak Tuhan Dalam Sains, Tafsir Islami Atas Sains, Mizan, Bandung, 2004, h. 55-56

[10] Gagasan survival of the fittest Darwin yang bercorak mekanistik adalah transformasi dari cogito ergo sum Descartes menjadi “Aku bertahan hidup, maka aku ada” atau “Aku beradaptasi, maka aku ada”. Lihat: Husain Heryanto, Op.Cit, h. 68.

[11] Lihat: Rodney Stark, One True God, QALAM, Yogyakarta, 2003,, h. 169.

[12] Lihat: J. Sudarminta, Filsafat Proses; Pengantar Sistematis Filsafat Alfred North Whitehead, h. 85-87, Kanisius, 2002, Yogyakarta.

[13] Mohammed Arkoun, Menuju Kritik akal Islam, dalam Jurnal Ulumul Qur’an, no. 6, vol. V, 1994, hal. 158-159.

[14] Ibid.

[15] St. Sunardi, “Membaca Qur’an Bersama ….”, dalam Johan H. Meuleman, Tradisi, Kemodernan dan Metamodernisme: Memperbincangkan Pemikiran Mohammed Arkoun, LKiS, Yogyakarta, 1996, hal. 60.

[16] Mohammed Arkoun, Berbagai Pembacaan Al Qur’an, Inis, Jakarta, 1997, hal. 48.

[17] Mohammed Arkoun, Menuju Pendekatan Baru Islam dalam Jurnal Ulumul Qur’an, no. 7, vol. II, hal. 85.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: