Metz Muntsani

"Kesunyian adalah teman sejati"

Nalar Al-Kindi

Posted by metzz pada Oktober 11, 2009

Masuknya “Rasionalitas” Dalam Islam

Bagaimana “Rasionalitas” diterima dalam Islam ?. ketika kita mencoba menganalisis “tradisi Arab” sebelum Islam, dari sejarah, telah terlihat kebudayaan khas Arab yang memiliki daya nalar tersendiri. Setelah Islam masuk ada pembedaan yang dilakukan secara sadar terhadap “tradisi nalar” pra- Islam. Nalar Islam memiliki khas tersendiri, yaitu adanya pengakuan tuntunan wahyu terhadap kehidupan ini. tapi para pemikir muslim memperjuangkan “Rasionalitas”, bahwa manusia memiliki potensi yang mampu membimbing dirinya terlepas dari kontes Tuhan. Orang pertama kali yang memperjuangkan dan mempertahankan “Rasionalitas” adalah Al-kindi, yang dalam sejarah tercatat sebagai filosof Arab pertama. Dan juga Ia termasuk filosof pertama ada dalam “negara yang berorientasi pada akal” (daulah al-‘aql) dalam Islam, yang sejak itu negara menghadapi “ketersingkiran akal” seperti yang diusung oleh aliran syi’ah dan lainnya.

Al-kindi dalam memperjuangkan dan mempertahankan “Rasionalitas” yaitu memasukkan pemikiran atau filsafat Yunani ke dalam kebudayaan Arab Islam dengan menterjemahkan karya para filosof Yunani. Selain itu Ia menulis beberapa artekel atau catatan-catatan yang sekiranya mudah dibaca oleh orang Arab. Bahkan tidak hanya itu, proses pengukuhan “Rasionalitas” oleh Al-Kindi dalam kebudayaan Arab Islam, Ia mengikuti jejak yang ditinggalkan Aristoteles tentang akal dengan menjauhkan diri dari penjelasan-penjelasan neo-Platonis yang sedang mendominasi pada masa itu.

Maka kita tahu dari catatan sejarah dan karya para pemikir Islam terutama pemikir pertama (Al-Kindi) bahwa, pemikir-pemikir muslim atau kebudayaan nalar Arab Islam telah terkonstruk oleh “lendir-lendir” pemikiran Yunani. Kita tidak perlu enggan dan malu untuk mengakui kebaikan para pemikir atau filsafat Yunani, karena bagaimanapun juga berkat merekalah “Nalar Arab” berkembang dan menjadi filsafat yang mengagumkan. Sebagaimana yang diungkapkan Al-Kindi, “diantara kewajiban kita adalah bahwa kita tidak boleh menghina orang yang telah menjadi sebab kita memperoleh manfaat sekalipun kecil…”

Pada walanya, pemikiran-pemikiran muslim dimaksudkan untuk mempertahankan agama Islam,konsep ketuhanan, yang disebut dengan teologi. Tapi bagaimana kemudian teologi beralih ke filsafat ? untuk menjawab pertanyaan ini kita harus mempertimbangkan secara kronologis para pemikir muslim dalam memperjuangkan filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani yang masih tabu di tengah orang Arab Islam. Al-kindi sebagai seorang filsuf muslim pertama menghadapi beberapa kesulitan untuk menyatakan dan memasukkan teori yang didapat dari pemikir Yunani ke dalam ide-ide abstrak Islam.

Dalam menghadapi kesulitan pertama, Ia berusaha untuk menanamkan kekuasaan pandangan pada pembacanya, bahwa kebenaran adalah kebenaran, tidak memandang dari mana datangnya, dan hal ini yang paling berharga. Al-Kindi mencoba ber”bahasa” sesuai bahasa pembaca agar diterimanya konsep dan ide-idenya untuk mempertahankan “Rasionalitas” di kalangan Arab. Mengenai kesulitan yang kedua, Al-Kindi berusaha dengan sebaik mungkin menyesuaikan bahasa Arab dengan kepentingan-kepentingan makna filosofis. Al-Kindi merupakan perintis jalan bagi pemikir Arab, tetapi belum cukup untuk mewadahi hasil konsep-konsep baru. Walaupun demikian Ia telah memberi sumbangsi yang besar bagi para pemikir Arab dengan adanya karya-karya filsafat Yunani yang telah diterjemahkan olehnya kedalam bahasa Arab. Dan Al-Kindi merupakan pembuka filsafat Islam.

Sumbangsi besar Al-kindi yang tidak bisa kita lupakan adalah banyaknya karya-karya filsafat Yunani yang telah diterjemah kedalam bahasa Arab, sehingga pembaca Arab merasa mudah untuk mengetahui filsafat yunani. Seperti halnya ilmu-ilmu yang berkembang di dunia Arab dan logika-logika nalar Arab telah dipengaruhi oleh pemikiran filsafat Yunani yang diterjemahkan Al-kindi. Maka pantas sebenarnya para pemikir muslim berterima kasih padanya atas mudahnya mereka untuk memperdalam kehebatan filsafat Yunani. Dan mereka memperdalami filsafat hanya sebagai senjata atau untuk mempertahankan agama Islam.

Filsafat

Berfilsafat berarti menggali watak seseorang, juga pada saat yang sama mencoba menemukan kebenaran.

– Iris Murdoch –

Cara yang paling tepat untuk memulai tinjauan kita tentang filsafat Al-Kindi adalah dengan jalan menjajaki konsepnya mengenai arti dan maksud filsafat. Penjajakan semacam itu akan berguna untuk dua tujuan. Pertama, hal itu akan menceritakan kepada kita tentang apa yang oleh Al-Kindi diartikan sebagai filsafat, dan kedua, karena Al-Kindi mewakili zamannya, hal itu akan mengungkapkan kepada kita sampai sejauh mana periode ini memiliki suatu pengertian yang cukup mengenai “ilmunya segala ilmu” tersebut.2

Karenanya, untuk mengetahui “Nalar” Al-Kindi kita harus memasuki pemaknaan dan pemahaman filsafat yang di artikan oleh Al-Kindi sendiri. Setiap filsafat mengandung tujuan tertentu sesuai orang yang menemukan filsafat itu. termasuk filsafat Al-Kindi, ada pesan-pesan yang disampaikannya. Untuk mengetahui pesan itu kita harus memahami filsafat yang dimilikinya.

Pertama, filsafat di pandang sesuatu yang sangat mulya, merupakan realitas pertama yang menjadi sebab dari semua realitas. Filsafat adalah ilmu universal yang mampu mengantarkan kita pada kehormatan tingkatan pertama. Disini Al-Kindi ada pembedaan pemaknaan tentang filsafat dengan filosof lain termasuk Aristo sendiri yang lebih banyak mengkonstru pemikiran Al-Kindi. Dalam karya pertamanya tentang Filsafat pertama, Al-Kindi mengatakan : “Yang paling luhur dan paling mulia diantara segala seni manusia adalah seni filsafat, yang digambarkan sebagai pengetahuan segala hal, sejauh batas kemampuan manusia. Tujuan filosof di bidang pengetahuannya adalah untuk berbuat sesuai dengan kebenaran itu.”3

Dari definisi Al-Kindi tentang filsafat diatas, ada titik tertentu yang harus kita ingat bahwa filsafat bukan satu-satunya yang tertinggi dalam kehidupan manusia. Seperti kata “sejauh batas kemampuan manusia” ini bukan merupakan pikiran murni Al-Kindi, tetapi sebagai tanda perwakilan para pemikir zezamannya bahwa, pemikir muslim dalam filsafatnya mengandung dua-mantra.

Yang pertama, para pemikir muslim bersumber pada akal murni sebagai potensi yang diambil dari ilahi. Pada dasarnya manusia tanpa wahyu bisa untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, akan tetapi hal ini hanya sebatas hal ihwal, yang tidak sampai pada esensi abstrak realitas pasti (Dzat Ilahi). Dengan ini Al-Kindi secara tidak langsung mengatakan bahwa manusia itu terbatas. Yang kedua, para pemikir muslim bersuber pada wahyu Ilahi. Kata Al-Kindi, akal manusia tidak akan sampai pada suatu makna yang dicapai oleh wahyu. Tapi bukan berarti kita tunduk kepada teks wahyu itu sendiri, karena untuk memahami wahyu tidak semudah yang kita bayangkan. Wahyu mengandung makna secara ruhiyah teks ataupun konteks. Untuk itu perlu kita menggunakan akal agar bisa mencapai makna yang tersembunyi dibalik wahyu.

Filsafat Al-Kindi, walau terkonstruk “bahasa” Yunani, Ia tetap didudukkan di posisii pertama sebagai pencetus filsafat pertama di dunia arab. Dalam karangannya tentang Definisi Benda-Benda dan Uraiannya, ia mencatat enam buah definisi yang mewakili candikeawan-candikeawan zamannya, seperti berikut;

  1. Philosophy (filsafat) terdiri atas dua perkataan, philo, teman, dan shopia, kearifan. Filsafat adalah cinta kearifan. Berdasar etimologi Yunani.
  2. filsafat adalah percobaan manusia untuk berbuat yang terbaik atau melebihi keunggulan Ilahi sejauh hal itu mungkin. Definisi fungsional.
  3. dilsafat adalah praktek kematian. Kematian berarti pemisahan jiwa dan raga.
  4. filsafat adalah “Ilmunya segala ilmu” dan “kearifan dari segala kearifan”.
  5. Filsafat adalah pengetahuan manusia tentang dirinya.
  6. hal ihwal filsafat sebenarnya dilukiskan sebagai ilmu pengetahuan tentang haecceitas, esensi, dan sebab-sebab segala hal sampai batas kemampuan manusia.4

Pengertian filsafat yang diberikan Al-Kindi sebenarnya masih kurang jelas sebagai bukti kemurnian filsafatnya. Karena pengertian itu telah di paparkan oleh filosof sebelumnya diluar Arab Islam. Tapi ada yang membedakan dari pengertian-pengertian filsafat, bahwa Al-Kindi mengakuai adanya keterikatan wahyu dalam diri manusia, terutama muslim seperti dirinya. Karena ia adalah muslim, tentu ada konsep-konsep Islam yang menjadi pijakan disetiap pemikirannya. Dan ini sebuah kewajaran, sebagaimana yang diungkapkan Jean-Jacques Rousseau bahwa, “manusia terlahir bebas, tetapi dimanapun ia terikat”.

Ada juga kesesuaian filsafat praksis Socrates, yang mengatakan “hidup yang tidak dipertanyakan adalah hidup yang tidak pantas dijalani”. Perkataan ini menekankan agar diri kita lebih membaca diri dalam kesadarannya disetiap tindak tanduk kita.

Kebebasan pemikiran Al-kindi selalu dibenturkan dengan masalah agama, karena ia berdampingan dengan agama. Bagi Al-Kindi filsafat dan agama seimbang, sama-sama mengarahkan atau mengajarkan manusia agar selalu bersikap benar dan arif. Dalam wahyu “amal ma’ruf nahi mungkar” mengajak manusia untuk selalu berbuat kebajikan dan kebenaran. Filsafatpun begitu, tujuan terakhirnya terletak dalam hubungannya dengan moralitas. Tujuan filosof hanyalah untuk mengetahui dan agar bertindak arif bijaksana. Filsafat merupakan pencarian dan perwujudan kebenaran. Dan kearifan yang sesungguhnya ialah memadukan pencarian kebijaksanaan itu dengan aplikasinya.

Al-Kindi dalam pembagian filsafat tak ada bedanya dengan pembagian Aristoteles, yang mengatakan teologi sebagai bidang penyelidikan filsafat yang selayaknya. Dan Al-Kindii membedakan antara teologi dan ilmu pengetahuan tentang keesaan Tuhan.

Walau Al-Kindi menyamakan antara filsafat dan agama tapi bukan berarti kita bisa mengatakan agama dan filsafat setara, karena Al-Kindi sendiri tidak menentukan. Kesamaan filsafat dan agama hanya bisa kita lihat dari fungsi terhadap kehidupan manusia. Yang pasti filsafat sebagai ilmu pengetahuan.

Bagi Al-Kindi, sifat pengetahuan dibagi tiga yaitu;

  1. Bersifat inderawi dengan cara perolehannya melalui indera dan objeknya semua hal yang dapat di indera.
  2. Bersifat rasional yang didapat melalui akal dan objeknya adalah konsep-konsep abstrak atau kategori.
  3. Dan ada juga ilmu ketuhanan yang cara memperoleh adalah dimilikinya derajat kerasulan yang langsung diterima dari Allah sedang objeknya adalah ilmu ketuhanan.

Al-Kindi menegaskan bahwa kenabian (nubuwwah) itu khusus untuk para rasul dan merupakan tanda yang membedakan mereka dari manusia lainnya. Dan masalah filsafat Al-kindi selalu menekankan pada praktis, dalam artian filsafat bukan hanya sekedar wacana atau silat lidah, akan tetapi filsafat yang paling utama adalah bagaiman kita sadar di setiap apa yang kita lakukan dan tahu akan kebenarannya. Yerutama lagi tahu akan diri kita sendiri.

Akal Pikiran5

Untuk lebih menyelami nalar Al-Kindi, kita coba merekontruksi teori al-kindi yang telah membuat dirinya puasa terhadap akal budi. Mungkin terasa sangat sulit bagi kita untuk mengetahui konsep Al-kindi tentang akal pikiran. Karena karya al-kindi tentang akal pikiran hanya satu yang kita dapatkan, yaitu tulisannya tentang akal budi. Maka tidaklah mudah kita meneliti akal pikiran berdasarkan al-kindi. Ini yang dikatakan George N. Antiyeh dalam pembahasannya tentang akal pikiran, studi tokoh Al-kindi. ( lihat Al-kindi tokoh muslim,1966).

Tentang akal pikiran (budi), Al-Kindi menegaskan bahwa, akal pikiran merupakan suatu esensi sederhana yang mengantarkan kita pada pengetahuan realitas sebenarnya.6mak pertanyaan yang mendasar apakah akal budi merupakan realitas atau terlepas dari itu ?

Jawaban pertanyaan itu kita bisa lihat pengkategorian Al-kindi terhadap akal budi. Al-kindi membegi akal budi menjadi tiga. Akal budi yang pertama merupakan realitas yang tertinggi dan yang pertama, tapi merukakan keseluruhan dari akalbudi-akalbudi lainnya. Ini sesuai dengan pandangan Aristoteles bahwa, akalbudi yang pertama adalah “penggerak yang tak bergerak”. Sekarang ada kejelasan bahwa akal budi juga realitas.

Sedang akal budi yang kedua, Al-kindi menyebutnya dengan “akal budi dalam potensial”. Akal budi yang kedua ini adalah keadaan potensial murni di dalam jiwa, inderawi dan juga bentuk-bentuk akali. Berarti terlepas dari konstruk-konstruk yang selalu akan menyentuh akali inderawi manusia.

Dan akal budi yang ketiga adalah hasil pikiran manusia setelah memadukan pemahaman-pemahaman yang diperoleh dari bentuk-bentuk, sehingga potensialitas yang dimiliki ke dalam aktualitas menjadi satu kesatuan. Tak ada bedanya dengan kata Aristoteles bahwa, akal budi dan objek pemahamannya menjadi satu dan menjadi sesuatu yang sama. Akal budi yang ketiga ini bisa juga disebut perolehan dari kebersatuannya dengan objek.7

Ini merupakan usaha yang besar bagi Al-kindi, yang telah berkeringat pemikira-pemikiran cemerlang, dengan memadukan konsep filsafat Yunani dan agama Islam. Ia tidak menafikkan sesuatu hal yang baik walau itu datangnya dari orang yang dianggap diluar golongannya dalam keyakinannya. Dan ternyata dalam karya filsafatnya, dari pikirannya yang brilian, ia membawa sesuatu yang sangat mulia, yaitu bagaimana manusia berjalan diatas rel-rel kebanaran dan keutamaan. Bukan hanya sekedar teoritis, tapi yang terpenting bagaimana kita mempraksiskan pemahaman yang dianggap benar dan baik.

Kata Aristoteles, “pelajaran kita sekarang tujuannya tidak murni bersifat teoritis; objek penyelidikan kita bukan untuk mengetahui apa itu kebajikan tetapi bagaimana untuk menjadi baik, dan mimang itu satu-satunya manfaat. Karenanya, kita harus memikirkan cara yang tepat untuk melakukan tinfdakan…”. Konsep Aristoteles ini diteruskan oleh Al-kindi dengan mengutamakan moralitas atau filsafat priksis diatas pembahasan yang lain. Dan pada masa itu kebetulan ini salah satu cara untuk melawan neo-Platonis dan lainnya.

Metafisika

Kita telah mempelajari filsafat AL-Kindi walau hanya sebagian saja. Tapi paling tidak sudah ada bayangan tentang perjalanan pemikiran Al-kindi. Oleh karena itu, perlu kiranya untuk kita tahu filsafat teori “metafisika” yang diajukan secara konseptual oleh Al-kindi. Karena metafisika adalah esensi filsafat Muslim-Arab.

Untuk mempelajari metafisika Muslim-Arab sangat lah sulit, kalau kita melihat pembahasan-pembahasan dan pergulatan yang telah terjadi dalam dunia intelektual muslim. Tapi kita coba saja dari sudut Al-kindi. Walau sumber metafisika Muslim-Arab yang mendominasi dan yang utama adalah filsafat plotinus, terutama doktrin emanasinya.

Menurut Al-Kindi, metafisika adalah “ilmu pengetahuan tentang apa yang tidak bergerak”, atau seperti apa yang dikatakan Aristoteles tentang “penggerak yang tak bergerak”. Dan lebih tepatnya metafisika merupakan ilmu pengetahuan tentang yang berkenaan dengan Ilahiya. Metafisika digambarkan oleh Al-kindi sebagai suatu yang mulia dan termulia dari segala macam ilmu, karena objek kajiannya adalah yang tertinggi dan termulia dari semua wujud.

Al-kindi yang sudah dikenal sebagai orang yang mengikuti jejak Aristoteles menamakan filsafat pertamanya adalah metafisika. Karena anggapannya metafisika adalah “ilmu pengetahuan tentang kebenaran pertama, yang merupakan sebab dari semua kebenaran”. Tapi walaupun ia mengikuti jejak Aristoteles bukan berarti sama apa yang dimaksud keduanya.

Dalam karya metafisikanya al-kindi membahas tentang “wujud”. Ia membagi wujud pada dua bagian. Pertama, wujud yang terindera, yang merupakan objek pengetahuannya inderawi dan wujud yang akali , yang bisa diperoleh dengan cara akali. Wujud yang pertama ini adalah tidak abadi, berubah-ubah dan tap tetap dalam posisi, kuan titas dan kualitas. Kedua, wujud yang tidak diketahui oleh indera dan tidak mempunyai eksistensi material (bukan Tuhan). Misalnya genera dan spesies. Dan dalam metafisika, Al-kindi tidak terlalu siknifikan dan esensial tentang wujud, hanya sekedar memaparkan pembagian wujud dan pembahasan yang belum selesai.

Dan Al-kindi mengatakan bahwa pikiran manusia terbatas untuk mengetahui wujud pertama, karena potensi yang dimiliki manusia tidak sampai kearah sana. Pikiran manusia hanya bisa membaca kategori-kategori yang bisa dia dapatkan dari pikiran murninya. Baginya, Tuhan satu-satunya wujud yang memmpunyai keabadian mutlak, dan pikiran manusia tidak akan mampu menjangkaunya. Berbeda dengan Plato dan Aristoteles, mengongsep wujud pertama (Tuhan) sebagai dualisme antara yang mutlak abadi dan yang terciptakan-dari-tiada-suatu-apa pun, antara Tuhan dan ciptaannya. Keabadian Tuhan plato dan Aristoteles bersamaan dengan materi. Aristoteles dengan pepatahnya “penggerak yang tak bergerak”, dan plato dengan pepatahnya atau senjata tajamnya “Idea-idea”. Sedangkan Al-kindi memisahkan antara keabadian mutlak Tuhan dari materi.

Etika

Dengan kebaikan, aku mengerti setiap bentuk kebahagiaan dan segala penyebabnya… Dengan kejahatan, aku mengerti setiap bentuk penderitaan.

_ Baruch Spinoza _


Kebudayaan nalar Arab bersifat dua mantra (berdiminsi dua) dalam setiap tindakan yang dilakukannya. Kita tahu, nalar Arab pra-Islam masih terjebak pada “mitos” yang dibuatnya sendiri, lalu menjadi sesembahan sebagai kebenaran. Maka datangnya Islam kedalam kebudayaan Arab merupakan revolusi kebudayaan dan nalar yang pimplang dalam diri orang Arab. Tokoh revormis pertama dalam Islam adalah Muhammad dengan membawa agama baru bagi kebudayaan Arab yang pada saat itu didominasi oleh kebudayaan nalar yahudi. Muhammad orang pertama di tengah-tengah Yahudi yang hidup dengan moralitas wahyu. Agama Islam bisa dikata sebagai penyelamat bagi kebudayaan Arab, dan umumnya kepada semua kehidupan manusia.

Setelah diakuinya kebenaran Islam di dunia Arab, dengan perjuangan gigih Muhammad, Islam menjadi salah satu pijakan moralitas Orang Arab, termasuk para pemikir Arab sendiri. Seperti Alkindi, ia dengan filsafatnya selalu mengedepankan moralitas dalam kehidupan manusia. Dan tentunya ada dua pedoman bagi moralitas Arab pasca-Islam; Pertama didasarkan atas Al-qur’an dan Hadist, yang didalamnya kita dapati suatu keyakinan akan adanya hari pembalasan, dan pada hari itu perbuatan-perbuatan yang dilakukan akan di pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Kalau kita melakukan perbuatan baik pasti dapat balasan yang baik pula, dan kalau kita melakukan kejahaatan pasti kita akan mendapatkan balasan yang setimpal pula. Inilah etika yang beragama, bahwa kode etik datangnya dari Ilahi. Kedua disandarkan atas pandangan bahwa individu manusia memiliki potensi yang berasal dari Ilahi untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, karena manusia mimang dicipta sebagai kholifah di muka bumi yang sudah dibekali oleh Ilahi, dan nilainya tidak bisa di kurangi.

Pada masa Al-kindi, kekuasaan Abbasiyah, aliran resmi yang dianutnya adalah paham Mu’tazilah. Sehingga akal manusia satu-satunya menjadi pijakan dalam etika atau moralitas kebudayaan nalar Arab. Sedang Al-kindi, tidak terlalu mengeluarkan pemahaman etika berdasarkan hasil murni pikiran dari dirinya sendiri, ia sibuk dengan menerjemahkan etika yang didapati dari filsafat Yunani. Dalam masalah etika Al-kindi tidak menampakkan mengagung-ngagungkan akal seperti yang dilakukan Mu’tazilah. Al-kindi lebih berperan sebagai penerjemah etika Yunani.

Etika adalah suatu kearifan bagi filosof muslim, yang direalisasikan dari penemuan filsafatnya. Seperti anggapan Al-kindi bahwa tujuan terakhir filsafat adalah terletak pada hubungannya dengan moralitas. Sedang tujuan filosof adalah untuk mengetahui kebenaran dan kemudian berbuat sesuai dengan kebenaran tersebut. Derngan demikin kearifan, perbuatan dan renungan sebagai aspirasi tertinggi manusiaterpadu dalam dirinya, tanpa menyamakan pengetahuan dan kebajikan seperti yang dilakukan Socrates.8 alkindi lebih menampakkan kehumanismenya sebagai makhluk yang tidak lepas dari lainnya. Seperti kata Aristoteles, bahwa manusia adalah makhluk politik atau sosial.

Keunikan teori Al-kindi tentang Etika terlihatnya sepaham dengan kaum stoik. Pandangannya tentang manusia, seakan ada kecenderungan penilaian bahwa, manusia berbuat kebajikan sebagai alami manusia. Dalam pikiran Al-kindi manusia melakukan kebaikan dikarnakan adanya hakekat keilahian di diri manusia, maka manusia lebih cenderung berbuat baik, sedang berbuat buruk seakan tidak serasi dengan sifat manusia. Sesuai dengan ungkapan Immanuel Kant , “manusia melakukan baik karena itu sifat kefitrahannya”.

Karena itu menjadi mungkin untuk melangkah terlalu jauh, atau tidak terlalu jauh dengan ketakutan, kebanggaan, nafsu, kemarahan, belas kasih, dan kesenangan dan kesusahan secara umum, dan kelebihan dan kekurangan sama-sama salah; namun untuk merasakan emosi-emosi tadi pada waktu yang tepat, untuk tujuan yang tepat, kepada orang yang tepat, denngan motif yang tepat, dan dalam perilaku yang tepat, adalah baik yang terbaik, yang menandakan kebaikan.

– Aristoteles –

Estetik etika Al-kindi bersifat platonis dan islami. Ada dua deminsi dalam etikanya. Pertama bersandar pada nilai-nilai Ilahiyah yang terkandung dalam wahyu. Kedua adalah akali manuisa yang brasal dari Ilahiyah. Kebajikan akan mengantarkan manusia pada kebahagiaan yang didambakan oleh manusia. Akan tetapi ini bukan berarti janji atau jaminan dari kebaikan, karena kebaikan itu sendiri merupakan sifat awal manusia.

Untuk mencapai kebahagiaan duniawi alkindi menegaskan, adalah mengurangi sebanyak mungkin pemilikan hal-hal dahiriyah yang hanya menyebabkan kesedihan. Sedangkan untuk menggapai lebahagiaan ukhrawi adalah dengan mengenal Tuhan dan melaksanakan amal perbuatan yang kita ketahui akan membawa diri kita lebih dekat pada-Nya.9maka filsafat Al-kindi tentang etika sangat jelas bagaimana mengajak manusia agar bermoral dan meningkatkan sikap humanismenya.

Yang diambil Al-kindi dari Aristoteles hanyalah unsur-unsur konsep kebajikannya. Dan corak etikanya sudah jelas diatas dijelaskan, bahwa etika Al-kindi bercorak platonis. Sedang kata plato, “…objek pengetahuan yang tertinggi adalah sifat dasar dari kebaikan, dimana segala yang baik dan yang jahat mendapatkan nilai-nilainya untuk kita.”Dari Plato Al-Kindi dapatkan macam-macam kebaikan yaitu; kearifan, keberanian, pengendalian hawa nafsu dan keadilan.10

DAFTAR PUSTAKA

George N. A tiyeh, Al-Kindi tokoh filosof muslim, PUSTAKA 1966, bandung.

Dr. Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, Pustaka Firdaus1993, jakarta.

Muhannad Abed al-jabiri, Formasi Nalar Arab, IRCiSoD 1003, Yakyakarta.

Lou Marinoff, PH.D., Plato Not Prozac, seri filsafat, TERAJU 1003, Jakarta.

Drs. Poerwantana, Drs. A. Ahmadi, M.A. Rosali, Seluk Beluk Filsafat Islam, PT. Remaja Rosdakarya, 1994, Bandung.

Majid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam, Sebuah Peta Kronologis, Seri Filsafat Islam, MIZAN, 1997,Bandung.

Seyyed Hosein Nasr, Oliyer Leaman, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, MIZAN, 2003, Bandung.

Dsr. H.A. Mustofa, Filsafat Islam, CV. PUSTAKA SETIA, 1997,Bandung.


2 oup.cit. Hal. 17.

3 oup,cit. Hal. 17.

4 oup. Cit. Hal. 18-19.

5 Mengikuti alur yang dijelaskan oleh George N. Atiyeh. Oup. Cit. Hal. 105.

6 Akal pikiran digambarkan oleh alkindi sebagai suatu :esensi sederhana yang dapat mengetahui realitas-realitas sebenarnya dari pada benda-benda. Ibid. Hal. 105.

7 lihat George N. Atiyeh, dalam pembahasannya tentang akal pikiran, studi tokoh Al-kindi. Ibid. Hal. 106.

8 oup. Cit. h.117-118.

9 oup.ct.h 119

10 tiga dari pertama pembagian kebaikan adalah kebajikan jiwa, artinya kebajika0kebajikan itu merupakan perbuatan-perbuatan yang selaras dalam jiwa itu sendiri. Yang keempat adalah suatu “aktivitas jiwa di luar badan”, yang bisa diduga berarti suatu aktivitas dalam masyarakat, karena keadilan menunjukkan perbuatan-perbuatan manusia yang selaras dalam lingkup hubungan-hubungan sosial. Lihat George N. Atiyeh. Pustaka. Hal. 119.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: