Metz Muntsani

"Kesunyian adalah teman sejati"

Surat Untuk Kawan

Posted by metzz pada Maret 12, 2010

Mainlah kesini, kawan! Aku merindukanmu,,,, Apalagi yang kau ragukan. Kita pernah merindukan bulan bersama dan tanpa sedikit pun ketakutan, ada sedikit getar yang menyapa tanpa diduga. Biarlah angin yg merasuk dalam lapisan hatiku tetap membekukan lembar-lembar kisah yang lain yg sempat memerah….dan bulir-bulir airmataku tak mampu terelakkan dari jerit yg terus meramu jejak dan waktu.***

Mainlah kesini, kawan! Bawakan aku secawan anggur yang tak sempat diminum para pujangga dan para penjahat yang selalu membising ditrotoal tempat kita istirah. Mainlah walau sekejak menatap, seperti dulu… Air mata dan waktu kita,jejak kita adalah sepenggal dimana bulan mati dipasung keangkuhan hati. Aku tak ingin menunggumu disaat tak diundang untuk datang, barangkali musin dan cuaca yang setia menemani kita telah berubah. Sepurnama itu, ya sepurnama, telah lekatkan segalanya,,,dan aku menjadi seonggak arca yg tak berdaya walau ter-terpa badai. Kawan, jangan biarkan kelarutanku semakin [men]samudera sebab tak beralasan. Marilah kita melanjutkan lukisan-lukisan yang belum selesai di dinding-dinding tempat kita bersandar.

Mainlah seperti dahulu, kawan! Bunga yang pernah kita siram dihalaman tempat kita bermain kini mulai tak berwarna. Seperti takdirku, serupa pilihanmu, semuanya terlihat mengkabur. aku tak inginkan itu, kawan, aku ingin kita seperti dahulu, yang selalu berani tertawa dan tersenyum dibalik kecemburuan asmara kita. Padahal, pada awalnya kita tak pernah lalai saling merajut mimpi sambil menghitung bintang. Walau keesokan harinya kita disilaukan oleh terik matahari yang semakin menembus lapisan ozon tanpa sedikit penghalang, kita tetap saling mengukuhkan diri. Dan kini entah kabarmu bagaimana, aku tak pernah mendengarnya sejak itu, setelah kau berpamitan sesaat melayarkan biduk kecil di danau yang memang sama sekali aku tak mengetahuinya. Sungguh aku ingin kau kesini, kawan, seperti dahulu…

Kawan, aku tak ingin tangis yang tak beralasan ini tetap mengikat detak jantungku. Aku ingin engkau yang melepaskannya, seperti dahulu ketika aku kedingin, dan engkau memelukku dengan penuh kehangatan. Aku tak ingin lukisanku di kanvas yang berdarah ini tak mendapatkan sentuhan lentik jari-jarimu. Sebab, hanya engkau kawan yang memberiku kejelasan akan sebuah kelepukan hidup. Kalaupun kecurigaanku yang berlebihan kau anggap pisau, jangan kau anggap aku akan memotong urat nadiku. Karena aku hanya ingin sedikit alasan yang dapat memperjelas jejakku bersamamu.

Mainlah kesini, kawan! walau tak dapat memperbaiki apapun, walau ini hanya sebatas rayuan…***

Timoer Bandung, 03 Maret 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: