Metz Muntsani

"Kesunyian adalah teman sejati"

Archive for the ‘Filsafat & Agama’ Category

Filsafat Aristoteles

Posted by metzz pada Oktober 11, 2009

Universal-Partikular

Dalam pemikiran Plato, kita menemukan hasrat plato untuk meraih yang bersifat umum (Universal), yang tetap dan dapat dipikirkan. Plato tidak menerima pengetahuan yang dihasilkan oleh indera. Meski memang ia menganggap data dari indera juga penting. Bagi Plato, Apapun yang dicerap indera hanya berguna sepanjang ia menghasilkan Forma (Bentuk) yang bisa mengingatkan kita pada pola/cetakan di dunia ide. Inti dari pemikiran Plato adalah tidak begitu memperhatikan dunia benda-benda yang dapat diindera.

Aristoteles membelokkan kecenderungan gurunya (Plato) dan lebih mempertanyakan pada yang konkret. Bagi Aristoteles ‘yang nyata’ itu bukan bersifat umum, namun yang bersifat khusus (Partikular)[1]. Dalam bahasa lain, hidup ini bagaimana pun juga berada dan bercampur dengan yang khusus itu. Aristoteles memandang yang ‘ada’ adalah yang konkret. Yang dapat ditangkap alat indera. Adapun yang di luar benda-benda konkret, tidak bisa dianggap ada. Lalu bagaimana dengan pengertian umum? Tanggapan Aristoteles atas pertanyaan semacam itu hanya sebutan dan tidak mempunyai dunia sendiri (Menolak alam ide Plato). Lebih lanjut ia menegaskan bahwa pengertian umum justru terdapat di dalam benda konkret, di dalam yang partikular.

Partikular/yang khusus itu dikaitkan dengan istilah Substansi, yaitu benda yang ‘ada’ tanpa tergantung pada benda lain. Benda semacam ini bukan sekedar bentuk, ia bahkan gabungan antara bahan dan bentuk (Materi) dan Forma). Bagi Plato, apa yang dapat diindera adalah bahan dari benda-benda ilusi dan yang nyata adalah bentuk yang bisa ditangkap pikiran. Bagi Aristo bahan bukan cuma ilusi atau pelengkap yang mengiringi bentuk (Forma). Bahan justru memberi nilai khas bagi keberadaan satu benda dalam kenyataan.

Universal adalah suatu ciri yang bisa dipredikatkan pada banyak subyek. Sedangkan Substansi adalah sesuatu yang tak bisa dipredikatkan. Substansi merupakan sesuatu yang ‘ini’ (Konkret) dan Universal adalah jenis benda, bukan benda konkretnya. Yang Universal tidak bisa mandiri. Ia hanya bisa dikenali ketika bersama dan berada dalam benda-benda konkret[2]. Misalnya, kata ‘cinta’ tidak bisa dimengerti kalau tidak dikaitkan dengan benda-benda konkret seperti halnya kata ‘Manusia’ hanya bisa dimengerti jika dikaitkan dengan Tia Ivanka, Agnes Monica, Angel Karamoy, Happy Salma, Fitri Handayanie, Gogon, Kabul, Tukul, Ki Daus dan sebagainya. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Posted in Filsafat & Agama | Dengan kaitkata: , , , , , | 1 Comment »

Nalar Al-Kindi

Posted by metzz pada Oktober 11, 2009

Masuknya “Rasionalitas” Dalam Islam

Bagaimana “Rasionalitas” diterima dalam Islam ?. ketika kita mencoba menganalisis “tradisi Arab” sebelum Islam, dari sejarah, telah terlihat kebudayaan khas Arab yang memiliki daya nalar tersendiri. Setelah Islam masuk ada pembedaan yang dilakukan secara sadar terhadap “tradisi nalar” pra- Islam. Nalar Islam memiliki khas tersendiri, yaitu adanya pengakuan tuntunan wahyu terhadap kehidupan ini. tapi para pemikir muslim memperjuangkan “Rasionalitas”, bahwa manusia memiliki potensi yang mampu membimbing dirinya terlepas dari kontes Tuhan. Orang pertama kali yang memperjuangkan dan mempertahankan “Rasionalitas” adalah Al-kindi, yang dalam sejarah tercatat sebagai filosof Arab pertama. Dan juga Ia termasuk filosof pertama ada dalam “negara yang berorientasi pada akal” (daulah al-‘aql) dalam Islam, yang sejak itu negara menghadapi “ketersingkiran akal” seperti yang diusung oleh aliran syi’ah dan lainnya.

Al-kindi dalam memperjuangkan dan mempertahankan “Rasionalitas” yaitu memasukkan pemikiran atau filsafat Yunani ke dalam kebudayaan Arab Islam dengan menterjemahkan karya para filosof Yunani. Selain itu Ia menulis beberapa artekel atau catatan-catatan yang sekiranya mudah dibaca oleh orang Arab. Bahkan tidak hanya itu, proses pengukuhan “Rasionalitas” oleh Al-Kindi dalam kebudayaan Arab Islam, Ia mengikuti jejak yang ditinggalkan Aristoteles tentang akal dengan menjauhkan diri dari penjelasan-penjelasan neo-Platonis yang sedang mendominasi pada masa itu.

Maka kita tahu dari catatan sejarah dan karya para pemikir Islam terutama pemikir pertama (Al-Kindi) bahwa, pemikir-pemikir muslim atau kebudayaan nalar Arab Islam telah terkonstruk oleh “lendir-lendir” pemikiran Yunani. Kita tidak perlu enggan dan malu untuk mengakui kebaikan para pemikir atau filsafat Yunani, karena bagaimanapun juga berkat merekalah “Nalar Arab” berkembang dan menjadi filsafat yang mengagumkan. Sebagaimana yang diungkapkan Al-Kindi, “diantara kewajiban kita adalah bahwa kita tidak boleh menghina orang yang telah menjadi sebab kita memperoleh manfaat sekalipun kecil…”

Pada walanya, pemikiran-pemikiran muslim dimaksudkan untuk mempertahankan agama Islam,konsep ketuhanan, yang disebut dengan teologi. Tapi bagaimana kemudian teologi beralih ke filsafat ? untuk menjawab pertanyaan ini kita harus mempertimbangkan secara kronologis para pemikir muslim dalam memperjuangkan filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani yang masih tabu di tengah orang Arab Islam. Al-kindi sebagai seorang filsuf muslim pertama menghadapi beberapa kesulitan untuk menyatakan dan memasukkan teori yang didapat dari pemikir Yunani ke dalam ide-ide abstrak Islam.

Dalam menghadapi kesulitan pertama, Ia berusaha untuk menanamkan kekuasaan pandangan pada pembacanya, bahwa kebenaran adalah kebenaran, tidak memandang dari mana datangnya, dan hal ini yang paling berharga. Al-Kindi mencoba ber”bahasa” sesuai bahasa pembaca agar diterimanya konsep dan ide-idenya untuk mempertahankan “Rasionalitas” di kalangan Arab. Mengenai kesulitan yang kedua, Al-Kindi berusaha dengan sebaik mungkin menyesuaikan bahasa Arab dengan kepentingan-kepentingan makna filosofis. Al-Kindi merupakan perintis jalan bagi pemikir Arab, tetapi belum cukup untuk mewadahi hasil konsep-konsep baru. Walaupun demikian Ia telah memberi sumbangsi yang besar bagi para pemikir Arab dengan adanya karya-karya filsafat Yunani yang telah diterjemahkan olehnya kedalam bahasa Arab. Dan Al-Kindi merupakan pembuka filsafat Islam.

Sumbangsi besar Al-kindi yang tidak bisa kita lupakan adalah banyaknya karya-karya filsafat Yunani yang telah diterjemah kedalam bahasa Arab, sehingga pembaca Arab merasa mudah untuk mengetahui filsafat yunani. Seperti halnya ilmu-ilmu yang berkembang di dunia Arab dan logika-logika nalar Arab telah dipengaruhi oleh pemikiran filsafat Yunani yang diterjemahkan Al-kindi. Maka pantas sebenarnya para pemikir muslim berterima kasih padanya atas mudahnya mereka untuk memperdalam kehebatan filsafat Yunani. Dan mereka memperdalami filsafat hanya sebagai senjata atau untuk mempertahankan agama Islam. Baca entri selengkapnya »

Posted in Filsafat & Agama | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Kematian Agama

Posted by metzz pada Oktober 11, 2009

Di Sekitar Evolusionisme

“Suatu agama merupakan agama yang kuat kalau dalam ritualnya dan dalam cara berpikirnya memberikan suatu visi yang menggerakan hati. Kebaktian kepada Tuhan bukan jalan untuk mencari rasa aman, melainkan suatu petualangan roh, suatu usaha untuk menggapai yang tak tergapai. Kematian suatu agama datang bersamaan dengan terjadinya represi terhadap harapan tinggi akan suatu petualangan”

—Alfred North Whitehead, Science and Modern World

“Sifat khas kebenaran agama-agama adalah bahwa kebenaran tersebut secara eksplisit berkaitan dengan nilai-nilai. Kebenaran itu menyadarkan kita akan aspek yang tetap dari alam semesta yang dapat kita pandang bernilai. Oleh kerenanya kebenaran tersebut memberi suatu makna, dalam arti nilai, pada eksistensi kita, suatu makna yang mengalir dari hakikat kenyataan sendiri”

—Alfred North Whitehead, Religion in the Making

Cartesian-Newtonian: Peradaban Menuju Evolusionisme Dan Kematian Agama

Rasio Cartesian-Newtonian[1], sebagai corak yang khas bagi modernisme[2]—pada perkembangannya—menjadikan subjektivitas tunggal yang kuat, dan menjadi tulang punggung dalam perkembangan sains modern di Barat. Positivisme yang dikembangkan oleh August Comte memiliki beberapa ciri: a). Bebas Nilai. Dikotomi yang tegas antara fakta dan nilai mengharuskan subjek peneliti mengambil jarak dengan semesta dengan bersikap imparsial-netral; b). Fenomenalisme. Semesta fenomena yang kita persepsi. Pengetahuan yang absah hanya berfokus pada fenomena semesta. Metafisika yang mengandaikan sesuatu dibelakang fenomena ditolak mentah-mentah; c). Nominalisme. Positivisme befokus pada yang individual-partikular karena itu kenyataan satu-satunya. Semua bentuk universalisme adalah semesta penamaan dan bukan kenyataan itu sendiri; d). Reduksionisme. Semesta direduksi menjadi fakta-fakta yang dapat dipersepsi; e). Naturalisme. Faham tentang keteraturan peristiwa-peristiwa di alam semesta yang menisbikan penjelasan adikodrati; f). Mekanisme. Faham yang mengatakan bahwa semua gejala alam dapat dijelaskan secara mekanikal-determinis seperti layaknya mesin[3].

Positivisme adalah sebagai simbol dari epistem Cartesian-Newtonian yang “gagah”, pada akhirnya telah mereduksi kekayaan batin jadi seonggok ucapan yang tak lagi terperhatikan[4]. Sesuai dengan diktumnya yang terkenal “Savoir pour prevoir, prepoir pouvoir”, dari ilmu muncul prediksi, dari prediksi muncul aksi, menjungjung tinggi sekali kedudukan ilmu pengetahuan dan sangat optimis dengan peran yang dapat dimainkan bagi kesejahteraan manusia, kemajuan sains berimbas pada perlombaan mekanisasi realitas dan rekayasa sipil, sehingga tak terhindarkan persaingan senjata dan perangpun merengkuh dunia[5].

Dari keterpurukan ini, muncullah segugus gagasan untuk, yang pada awalnya Positivisme ingin menata kembali masyarakat dengan berasaskan teologi dan filsafat tertentu, kini restorasi itu dibalik, yakni masyarakat harus dibebaskan dari kungkungan teologi dan filsafat. Misi gagasan ini adalah administrasi masyarakat secara rasional harus dilandasi pada pengetahuan yang berkesatuan. Dan hanya bisa dicapai apabila dikembangkan suatu bahasa ilmiah yang berlaku pada semua bidang ilmu pengetahuan.

Maka gagasan ini kemudian disebut dengan Positivisme-logis. Yang menjadi perbedaan di antara madzhab ini dengan pendahulunya adalah konsentrasi pendahulunya pada bidang pengaturan sosial pada masyarakat secara ilmiah, dan adanya gerak evolutif dalam alam, sedang madzhab ini memfokuskan diri pada logika dan bahasa ilmiah. Baginya, filsafat harus menjadi hamba ilmu pengetahuan, dan tugas pokoknya adalah melakukan kajian tentang metodologi ilmu pengetahuan dan melakukan penjernihan konsep-konsep ilmiah[6].

Perjalanan problematika libido “metode ilmiah” tak pernah pudar dengan berbagai hujat fakta anomali. Sains, menggelinding bagai roda pedati—karena sains mengikuti rasio Cartesian-Newtonian di atas—meninggalkan religiusitas. Sains menjadi orang baru dari perkembangan zaman yang terpisah, terburai dari agama sebagai fakta anomali yang metafisik. Hal ini tampak dalam inkuisisi atas Galileo, di mana ia harus tunduk atas otoritas gereja, untuk meninggalkan ‘ajaran sesat’ heliosentrisme Copernikan yang bertentangan dengan Gereja, di mana Injil ditaruh di tangan kanannya.

“Survival of the fittest”, diktum yang nampak tak asing lagi bagi para penggiat sains dan filsafat, bahkan, bagi ‘pesoleh’ agar bisa preventif menghadang jalan bagi ‘kereta pikir via patas’ ala materialisme tersebut. Diktum yang keluar dari buku The Origin of Species karya Charles Darwin telah mengguncang ‘konstruk-nalar’ religi, yang pada umumnya percaya bahwa penciptaan berasal dari suatu desain mutlak Tuhan. Namun tidaklah demikian bagi Darwin. Baginya, seperti dikutip Ian G. Barbour, makhluk dalam penciptaan adalah hasil dari suatu proses seleksi alam yang panjang. Di bawah kondisi kompetitif, individu-indivdu dengan sejumlah keuntungan adaptif akan mampu bertahan hidup dengan lebih baik sehingga dapat melahirkan keturunan dan meneruskan keunggulan itu pada keturunannya. Menurut Barbour, teori Darwin, atau yang lebih dikenal dengan Teori Evolusi, tidak hanya menggerogoti versi dari argumen tradisional desain bahwa ciptaan berasal dari rancangan tertentu, Darwin juga menjelaskan sejarah alam dengan hukum-hukum alamiah yang nampaknya tidak memberi peluang bagi tuntunan penyelenggaraan Allah.[7]

Keith Ward mengatakan hal yang berbeda dengan Barbour. Menurutnya, Darwin sebenarnya tidak menemukan gagasan tentang evolusi, namun menjadi eksponen yang paling berpengaruh dengan gagasan ini, terutama yang berhubungan dengan evolusi kehidupan organis. Gagasan ini, lanjutnya, bagi banyak pakar biologi menyediakan kunci penjelasan tentang kompleksitas kehidupan binatang. Menurut Ward, pandangan kaum religi yang menolak karena teori Darwin bertentangan dengan kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian adalah salah. Menurutnya, gagasan bahwa Tuhan menciptakan bentuk-bentuk kehidupan melalui proses evolusi gradual tidaklah lebih sulit ketimbang gagasan bahwa penciptaan terjadi dengan seketika! Baca entri selengkapnya »

Posted in Filsafat & Agama | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

KEADILAN 4

Posted by metzz pada Juli 23, 2009

page 4 of 1

Keadilan Sosial-Ekonomi

Keadilan menjadi syarat mutlak dalam hubungan antar manusia, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Besarnya tuntutan akan keadilan sebenarnya merupakan tuntutan normatif. Tuntutan tersebut muncul pada semua tingkatan kehidupan sosial-ekonomi. Apakah ini indikasi bahwa sekarang tidak ada keadilan? Bila memang demikian keadaannya, mengapa selama ini kita bisa bertahan?

Beberapa ahli[1] mengemukakan bahwa keadilan harus diformulasikan pada tiga tingkatan, yaitu outcome, prosedur, dan sistem. penilaian keadilan tidak hanya tergantung pada besar kecilnya sesuatu yang didapat (outcome), tetapi juga pada cara menentukannya dan sistem atau kebijakan di balik itu.

Keadilan yang berkaitan dengan outcome sering disebut sebagai keadilan distributif, namun sesungguhnya kedua hal tersebut tidak sama. Kajian psikologi tentang keadilan pemberian upah hampir selalu memasukkannya dalam lingkup keadilan distributif. Bila dicermati, pemberian upah dapat dilihat dari dua sisi, yaitu distribusi dan pertukaran.[2] Karenanya, para ahli ekonomi menilainya sebagai keadilan pertukaran (komutatif). Bahkan, ekonom terkenal Adam Smith[3] menyatakan bahwa hakikat keadilan adalah keadilan komutatif.

Antara keadilan distributif dan keadilan komutatif terdapat perbedaan dan persamaan. Di dalam proses distribusi akan tampak ada dua pihak, yaitu pembagi dan penerima. Di sini posisi pembagi kelihatan lebih tinggi dibandingkan dengan penerima. Sementara itu dalam proses pertukaran kedua pihak seharusnya berada pada posisi yang sama. Ditinjau dari sudut pertukaran, pekerja menukarkan tenaganya dengan uang. Analogi pertukaran jasa dengan uang ini mirip dengan proses jual beli barang. Pihak pertama memiliki barang atau jasa dan pihak lain memiliki uang. Persamaan prinsip keadilan distributif dengan keadilan komutatif akan menjadi sangat jelas bila kaidah distribusi yang digunakan adalah ekuitas pada hubungan dua pihak (diadic), terutama bila masukan (input) keduanya setara. Permasalahannya, bila masukan kedua pihak berbeda sangat jauh, kesetaraan antara kedua pihak itu juga akan sulit tercapai. Meskipun demikian perbedaan yang besar itu masih dapat dilihat persamaan prinsipnya bila pada keadilan komutatif menekankan aturan no harm dan no intervention[4]. Artinya, pertukaran akan mirip distribusi karena pihak yang kuat (input besar) tidak berusaha mempengaruhi, merusak, maupun mencaplok pihak yang lemah. Baca entri selengkapnya »

Posted in Filsafat & Agama | Dengan kaitkata: , , , , , | 1 Comment »

KEADILAN 3

Posted by metzz pada Juli 23, 2009

page 3 of 4

Prinsip-Prinsip Keadilan Dalam Islam

Al-Qur’an sebagai manifestasi kalam Tuhan merupakan kitab petunjuk Moral yang komprehensif dan sempurna, datang dari Alam Ghaib untuk kebaikan manusia dan alam semesta (QS. al-Baqarah (2) : 2, 97 dan 185). Fitrah (suci) dan Hanif (lurus dan benar) merupakan dasar konstitusi kepribadian manusia, yang karena itu, ia merindukan tatanan kehidupan yang ramah dan damai, berdiri di atas prinsip-prinsip keadilan.

Puncak kasih sayang Tuhan atas manusia, terbukti dengan diutusnya para Nabi, yang di satu sisi mempunyi misi menyeru manusia kepada penyerahan diri, patuh-tunduk pada Tuhan Yang Maha Esa (Faham Tauhid) (QS. al-Ahzab 33 : 45-46), juga di sisi lain, berkaitan dengan semua Nabi, Tuhan menegaskan : “Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan telah kami turunkan bersma mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia bisa melaksanakan keadilan” (QS. al-Hadid (57) : 25).

Ayat tersebut menegaskan bahwa menegakan keadilan adalah tujuan dan misi utama kenabian. Dengan demikian terdapat dua tujuan utama misi kenabian, yaitu, mengajak manusia untuk menyembah Allah, sekaligus memberantas kemusyrikan, dan menegakkan keadilan di tengah-tengah masyarakat, sekaligus memberantas kedlaliman[1].

Merujuk pada ayat 25 surat al-Haadid tersebut, Murtadha Mutahari[2] menegaskan bahwa keadilan, dengan konsepsi sosialnya, merupakan tujuan kenabian (nubuwwah).

Nasehat Imam ‘Ali as. Kepada Gubernur Mesir, Muhammad Ibnu Abi Bakar; Para duta Illahi adalah para penegak keadilan yang sesungguhnya dalam masyarakat. Mereka adalah orang-orang yang telah merencanakan jalan kesempurnaan manusia bagi umat manusia[3]. Baca entri selengkapnya »

Posted in Filsafat & Agama | Dengan kaitkata: , , , , | 1 Comment »

KEADILAN 2

Posted by metzz pada Juli 23, 2009

page 2 of 4

Keadilan Dalam Filsafat Yunani

Keadilan telah menjadi pokok pembicaraan serius sejak awal munculnya filsafat Yunani. Pembicaraan keadilan memiliki cakupan yang luas, mulai dari yang bersifat etik, filosofis, hukum, sampai pada keadilan sosial. Banyak orang yang berpikir bahwa bertindak adil dan tidak adil tergantung pada kekuatan dan kekuatan yang dimiliki, untuk menjadi adil cukup terlihat mudah, namun tentu saja tidak begitu halnya penerapannya dalam kehidupan manusia.

Kata “keadilan” dalam bahasa Inggris adalah “justice” yang berasal dari bahasa latin “iustitia”. Kata “justice” memiliki tiga macam makna yang berbeda yaitu; (1) secara atributif berarti suatu kualitas yang adil atau fair (sinonimnya justness), (2) sebagai tindakan berarti tindakan menjalankan hukum atau tindakan yang menentukan hak dan ganjaran atau hukuman (sinonimnya judicature), dan (3) orang, yaitu pejabat publik yang berhak menentukan persyaratan sebelum suatu perkara di bawa ke pengadilan (sinonimnya judge, jurist, magistrate).[1]

Sedangkan kata “adil” dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab “al ‘adl[2] yang artinya sesuatu yang baik, sikap yang tidak memihak, penjagaan hak-hak seseorang dan cara yang tepat dalam mengambil keputusan. Untuk menggambarkan keadilan juga digunakan kata-kata yang lain (sinonim) seperti qisth, hukm, dan sebagainya. Sedangkan akar kata ‘adl dalam berbagai bentuk konjugatifnya bisa saja kehilangan kaitannya yang langsung dengan sisi keadilan itu (misalnya “ta’dilu” dalam arti mempersekutukan Tuhan dan ‘adl dalam arti tebusan).[3]

Beberapa kata yang memiliki arti sama dengan kata “adil” di dalam Al-Qur’an digunakan berulang ulang. Kata “al ‘adl” dalam Al qur’an dalam berbagai bentuk terulang sebanyak 35 kali. Kata “al qisth” terulang sebanyak 24 kali. Kata “al wajnu” terulang sebanyak kali, dan kata “al wasth” sebanyak 5 kali.[4] Baca entri selengkapnya »

Posted in Filsafat & Agama | Dengan kaitkata: , , , , | 1 Comment »

KEADILAN 1

Posted by metzz pada Juli 23, 2009

Page 1 of 4

Keadilan Sosial Dalam Konteks Pancasila

Sebelum lebih jauh membahas keadilan sosial dalam konteks pancasila perlu kiranya dipaparkan historiositas pancasila itu sendiri. Sebab pancasila sebagai filosofis bangsa Indonesia tidak hadir begitu saja, melainkan melalui keringat pemikiran yang matang dan keputusan yang melintasi berbagai tahapan.

Pada tanggal 9 April 1945 BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) resmi dibentuk sebagai realisasi janji Jepang untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia sesuai pengumuman Perdana Menteri Koiso pada tanggal 9 September 1944. Anggota BPUPKI[1] dilantik pada tanggal 28 Mei, dipimpin Radjiman Wedyodiningrat, dan antara tanggal 29 Mei sampai 1 Juni 1945 mengadakan sidang pertamanya. Hal-hal yang dibicarakan pada sidang tersebut berkisar pada persoalan tentang bentuk negara, batas negara, dasar negara dan hal lain terkait pembentukan konstitusi bagi sebuah negara baru. Pembicaraan tentang hal-hal itu berjalan lancar, kecuali tentang dasar negara yang berlangsung tegang dan panas.

Ada dua aliran yang muncul, yakni golongan Islamis yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara Islam dan golongan nasionalis (yang kebanyakan anggotanya juga beragama Islam), yang menginginkan pemisahan urusan negara dan urusan Islam. Golongan nasionalis menolak menjadikan Indonesia sebagai negara Islam karena melihat kenyataan bahwa non-Muslim juga ikut berjuang melawan penjajah untuk mencapai kemerdekaan. Golongan ini juga menegaskan bahwa untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam akan secara tidak adil memposisikan penganut agama lain (non-Muslim) sebagai warga negara kelas dua. Baca entri selengkapnya »

Posted in Filsafat & Agama | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Filsafat Perennial 2

Posted by metzz pada Juli 23, 2009

page 2 of 1

Gagasan-Gagasan Filsafat Perennial

Beberapa filsuf maupun pemikir yang berkutat dalam wacana filsafat perennial terdapat pemahaman yang saling berbeda tentang makna esensial dari jenis filsafat tersebut, namun uraianya hanya berhenti pada level perumusannya saja karena pada dasarnya semua perenialis sejak awal perkembangan hingga saat ini sepakat dengan beberapa karakteristik dasar filsafat perennial yang disinggung oleh Aldous Huxley.

Aldous Huxley dalam bukunya menjabarkan kerangka konsep dasar filsafat perennial ia menyebutkan  tiga konsep yaitu: Pertama; Metafisika, yang mencoba mengenal suatu realitas illahi, yang sangat substansial bagi dunia material, kehidupan dan pikiran, Kedua; Psikologi, yang mencoba menemukan di dalam jiwa manusia, sesuatu yang mirip, bahkan identik dengan realitas illahi. Ketiga; Etika, yang menempatkan tujuan atau cita-cita akhir manusia pada pengetahuan akan dasar semua being (ground of all being)[1].

Karl Jasper dalam bukunya The Perennial Scope of Philosophy, menyebutkan : From the biggining there has been some thing irreplaceable in philosophy. Through all the change in human sircumstances and the task of practikcal life, through all progress of sciences, all the development of the categories and methods of thought, it is forever concerned with apprehending the one eternal truth under new conditions, with new methodes and perhaps greather posibilities of clarity[2]. Baca entri selengkapnya »

Posted in Filsafat & Agama | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Filsafat Perennial 1

Posted by metzz pada Juli 23, 2009

Page 1 of 2

Historiografi Filsafat Perennial

Filsafat Perennial memiliki sejarah yang cukup panjang. Sebagai salah satu cabang filsafat yang sangat tua umurnya, kemunculan filsafat perennial dalam arti menyangkut saat atau kurun waktu tertentu serta oleh siapa saja yang merintisnya, tidak diketahui dengan jelas. Ada perkiraaan yang hampir pasti benar bahwa filsafat perennial ini mulai muncul dalam wacana intelektual manusia sejak zaman para pemikir pertama, namun tidak diketahui zaman apa itu, dan siapa saja yang tergolong para pemikir pertama tersebut.

Secara etimologis, Perennial berasal dari bahasa Latin, perennis, yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa inggris berarti kekal, selama-lamanya, atau abadi[1]. Istilah filsafat perennial diduga untuk pertama kalinya digunakan di dunia Barat oleh seorang yang bernama Agustinus Steuchus (1497-1548) sebagai judul karyanya, de perenni philosophia, yang diterbitkan pada tahun 1540. Istilah tersebut kemudian dipopulerkan oleh Leibnitz dalam sepucuk suratnya yang ditulis pada tahun 1715. yang membicarakan tentang pencarian jejak-jejak kebenaran dikalangan para filosof kuno dan tentang pemisahan yang terang dari yang gelap, sebenarnya itulah yang dimaksud dengan filsafat perennial (perenis quedem philosophia)[2].

Secara terminologis, Rahchman menemukakan pandangan bahwa filsafat perenial adalah sebuah filsafat, yang dipandang mampu menjelaskan segala kejadian yang bersifat hakiki, menyangkut kearifan yang diperlukan dalam menjalankan hidup yang benar, yang rupanya menjadi hakikat dari seluruh agama-agama dan tradisi-tradisi besar spriritualitas manusia.[3] Dengan filsafat inilah sebagai metode untuk memahami akan kompleksitas perbedaan-perbedaan yang ada. Baca entri selengkapnya »

Posted in Filsafat & Agama | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »