Metz Muntsani

"Kesunyian adalah teman sejati"

Posts Tagged ‘Lengkung Alismu’

Pada Lengkung Alismu Kutemukan Lekukan Bulan

Posted by metzz pada Maret 31, 2010

Malam ini, seperti malam sebelumnya, ada kabut yang melingkar di remang-remang kesunyianku, dan ingin sekali kusibak supaya aku dapat menikmati cerahnya langit. Terkadang aku menyaksikan bintang jatuh di arah timur, konon, itu adalah pertanda. Tapi kubiarkan saja ia lewat, dan kuhiraukan rinding bulu kudukku yang semakin merayap bersama dingin malam. Perlahan hanya kudengar detak jam dinding, dan perlahan pula malam ini mengingatkan aku pada seraut wajahmu yang ayu. Dulu engkau berpincu di bawah sinar bulan, dan engkau cemberut ketika cahaya bulan dipeluk awan. Dan aku, hanya setia menemanimu.

Desember lalu, tahun yang entah, kau telah nobatkan sebagai bulan yang ranum pun penuh perih di sekujur tubuh kisahku.

“Aku masih milikmu, entah sampai kapan”. Ketika malam mulai melantunkan syair kesunyian, terkadang perih pun rindu merayuku untuk sekedar bersapa, Lalu kubiarkan setitik airmata jatuh menyirami benih rasa yang dulu kutanam bersamamu di tanah yang datar. kini, berkali-kali, kubiarkan rasa itu bermitafor dalam bentuk yang berbeda, dan jiwanya tetap mengabadi, bahkan dapat kukatakan; “inilah hantuku sepanjang waktuku, aku tetap milikmu walau engkau terlihat jauh”.

Sebelum gerimis perlahat menjahit resahku, tentang kisah yang silam dan frase-frase yang tak mudah aku terima, aku tak ingin terjaga dalam peluk yang tak bisa aku hentikan. Pada suatu sore yang kelam, engkau membujukku dengan satu puisi yang sedikit mengiris kebekuan benakku, bahwa kehadiranku bukanlah subjek yang dihadapkan pada objeknya, sebab aku tak suka objektifikasi yang [ter]ramu dengan begitu saja dalam gerak kisah kita. Lalu, kulihat hujan mulai rebah pada tanah yang kering. Menumbuhkan hasrat dan harapan yang telah lama dilipat getir dan kegersangan hati.

Kisah yang lapuk sebab tersungkur pada dirinya sendiri sungguh sulit untuk aku dendangkan dengan sedikit irama. Barangkali memang tak pantas menjadi larik-larik kemungkinan pada jejak selanjutnya. Sebab, kehausanku mulai menyeretku pada tebing-tebing keangkuhan, dan aku merasakan ada yang liar dalam detak hatiku, sebenarnya ada getir yang berlebihan, tapi kubiarkan terbaring bersama rindu di mulut kesunyian dan kesendirianku.

“Kalau aku memulai suatu nyanyian di pagi nanti, burung-burung pastilah cemburu, dan kuhawatir besok ayam tak mau membangunkan aku lagi. Kalau aku tak bernyanyi, lalu siapa yang akan meramaikan sepi hatimu.”

Inilah telaga, dimana kita harus menyusuri semak-semak kenangan untuk sekedar amuk rindu. Ziarahkan pekat yang melilit di detak jantung dan lipatan hati pada muara yang berdekatan dengan samudranya. Lalu, disana kita akan meminum seteguk anggur sampai dahaga tak menyekat sesak tenggorokan kita.

Inilah cerita yang telah menjadi artefak dan fosil-fosil suatu kisah yang sekian lama tertanam di kebun belakang rumahku. Sebenarnya, aku hanya ingin mengakui bahwa pada lengkung alismu kutemukan lekukan bulan.

Timoer Bandung, 2009


Iklan

Posted in Catatan Sederhana | Dengan kaitkata: , | Leave a Comment »