Metz Muntsani

"Kesunyian adalah teman sejati"

Posts Tagged ‘Matahari’

Aku Ingin Mengenang Desember

Posted by metzz pada Juli 26, 2009

Aku ingin mengenang Desember
Kala engkau torehkan luka
Dan senyum bunga dilumat matahari,
ladang-ladang mengering hilang benih

Maknailah sepanjang musimmu
Bahwa aku yang kalah tetap memekar dada
Memantrakan tangis yang dicumbu pagi
Sebab, linang rindu sebagai senandung kalbu

Sajak-sajak sisa reranting di kebunku
Masih membisik tentang embun
Sebagai larik mata air yang memukau;
Sebatang berdaun-daun berakar doa
Sedaun berbunga-bunga berbuah senyum

Aku ingin mengenang Desember
Kala engkau menjabat benua yang lain
Dan tanah ini dicabik-cabik serigala

Timoer Bandung, 2009

Posted in Puisi | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Ratapan Sang Malam

Posted by metzz pada Juli 20, 2009

Aku hanya ingin melihat pagi
Menatap matahari dikeranda cahaya hati
Biar nafas memati
Awan masih menyimpan doaku
Esok kan hujan beribu harap, cita dan cinta

Lepas…!
Lepaskan aku…

03-02-‘06

Posted in Puisi | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Pagi Yang Berbagi

Posted by metzz pada Juli 20, 2009

Time: 04.30 WIB

Pagi, tak terasa aku telah sampai pada pagi yang lain. Entah seberapa banyak pagi telah kulewati. Aku tak punya waktu untuk menghitungnya, terlalu melelahkan. Sebelum kunyalakan rokok dan menyeduh segelas kopi, kubuka jendela kamarku, barangkali angin pagi menyegarkan semangatku. Kata pepatah, “jemputlah matahari sebelum kau yang dijemputnya…” dan aku selalu berharap, mungkin pagi ini dapat menyelimuti segala mimpiku. Mungkin juga ada berita tentang waktu yang tak menjemukan.

Seteguk kopi dan sehisap rokok begitu terasa nikmat, serupa ruang yang dapat melenyapkan segala kepekatan. Kegaduhan. Tiba-tiba, ada yang bangun dalam hatiku. Dan seketika kamarku terasa senyap dan hampa. Tak tertahan, ia terus meronta. Dengan sedikit malu, aku menelepon seorang kawan. “Kawan, rindu itu mendatangiku. Memelukku. Dan aku tak bisa melepasnya…” Klik, telpon kumatikan seketika. Sedebar rindu dendam semakin menggelegar. Memetir segala kenangan yang seharusnya telah kutinggalkan jauh. Karena memang semestinya ditinggalkan. Baca entri selengkapnya »

Posted in Catatan Sederhana | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »