Metz Muntsani

"Kesunyian adalah teman sejati"

Posts Tagged ‘Onani’

Telaga Pertemuan

Posted by metzz pada Maret 24, 2010

Di sini terlalu pekat untuk pertemuan. Perempuan itu sangat imajiner dalam satu cerita. Maka aku jadikan beberapa babak yang tidak lagi memperdulikan latarnya. Cukuplah perempuan itu merasuk ke dalam pikiranku. Dan ketika rindu itu datang, hanya dengan onani maka dianggap selesai semuanya. Benarkah….?

Kenapa kita takut membercakkan sesuatu dalam kesunyian? Kematian, mati, bukan lagi sesuatu yang harus dihindari. Perpisahan dan pertemuan adalah hal wajar saja. Karena air mata tidak selamanya buruk.

Di antara kita siapa memanggil ‘siapa’. Aku bosan dengan kebutuhan biologis ini yang tiada habisnya. Memaksa aku terus ber-sensasi dengan tanganku sendiri sambil memojokkan diri di kamar mandi. Dan sedikit memeramkan mata untuk kehadiran yang dipanggil. Tentunya, perempuan itu di sisi lainku selalu menjelma harapan biologis.

“Pelan-pelan”. Bisiknya, membuat aku semakin bersemangat dan menggebu. Akan tetapi sangat disayangkan kalau hidup hanya diandang sebatas onani, dan selesai.

Aku menyesal, perempuan itu mengajari hidup di titik yang berbeda. Tapi aku lebih menyesal kalau sampai tidak mengetahuinya. Sekarang aku mengerti bahwa hidup memang menyimpan banyak pertanyaan. Sedangkan kematian tidak sama sekali.

“Kenapa kamu tidak lakukan lagi?” Katanya menggoda.
“Aku lelah”.
“Bukankah kamu merindukan aku?”
“Ya. Tapi sekarang banyak yang harus aku kerjakan”.
“Kamu bohong”.

Perempuan itu terlihat bermuka cemberut, lalu pergi. Seakan ia menamparku dan berkata ‘Aku dilahirkan atas permintaanmu, kenapa kamu tidak mau menerimanya?’. Perempuan itu pergi karena hal kecil. Aku hanya tersenyum. Kalau saja ia mengerti, bahwa hidup tidak pernah dipinta, dan hidup ini penuh dengan kegelisahan dan air mata, penuh dengan beban moral yang tidak akan selesai dengan onani, tentunya tidak akan separah ini. Dan aku seorang lelaki sedikit egois. Inilah yang membuat aku sedih, kenapa perempuan itu begitu naïf memandang hidup, dan kenapa juga laki-laki suka terlena terhadap kenikmatannya?

Barangkali aku sebagian dari manusia brengsek. Menyiksa diri dalam kesendirian dan kesepian. Sedang rindu semakin memburu benak diri. Paling tidak aku sudah berani mengusir perempuan itu walaupun sangat menyakitkan. Dan aku sudah tidak ‘bunuh diri’ lagi.

Coba kita lihat, banyak sekarang manusia melakukan onani. Bukan hanya sekali dua kali, hampir setiap hidupnya. Entah karena perempuan atau karena lainnya. Hidup hanya untuk biologisnya sendiri semata. Hingga pada akhirnya semesta ini penuh dengan benih-benih yang hanya akan merusak tatanan dan generasi selanjutnya. Entah ini warisan atau apa!

Humanisme, kapitalisme, saintisme, materialisme dan globalisasi, bahkan label-label sentrisme lainnya telah menjadi kondom keserakahan dan pemuasan diri. Sedangkan hidup semakin berada di dataran tak berdaya. Siapa yang tidak muak terhadap semua ini? Aku memang belum punya solusi tapi aku mengerti.

Tiba-tiba perempuan itu datang lagi. Ia datang mungkin karena dekat denganku, mungkin juga karena ia pernah menjadi kekasihku. Yang pasti, aku tidak mungkin bersamanya lagi.

“Apa kamu tidak merindukan aku?”. Perempuan itu seperti merayu.
“Tidak”. Kataku tegas.
“Kita kan pernah saling mencinta”.
“Tidak. Kamu telah menghianati aku. Menghianati hidup. Menjadikan aku sebagai budak”.
“Bukankah sekarang kamu juga menjadi budak diri kamu sendiri?”
“Lebih baik begitu, daripada tidak punya beban moral”.

Perempuan itu diam seperti tidak punya alasan dan rasa salah saja. Sedangkan aku semakin merasa bersalah pada diri. Penyesalan dan kekesalan dalam diri menjadi satu kecamuk. Dan benak telah muntak kata, pisau, air mta, darah dan sebagainya. Sehingga aku pun bingung harus berlabu kemana dan dimana.

Hanya karena perempuan, ya, perempuan itu telah membuka pintu jiwaku. Memngantarkan aku pada pengetahuan hidup yang bermuara kemuakan. Tidak ada harapan yang dapat diperjuangkan. Tidak ada janji yang harus di panjatkan. Karena semua kini menjadi omong kosong.

Barangkali aku sudah bosan hidup. Menyaksikan penindasan yang terus-menerus seperti mata rantai. Bahkan dalam semua bidang. Dan cinta pun dijadikan permainan saja. Aku laki-laki lemah, namun tidak selemah mereka yang onani hanya untuk memuaskan diri. Termasuk perempuan itu. Kita memang sama-sama ber-onani, hanya saja aku tidak mau menjadi manuisa anjing. Anjing apapun! Apa aku frustasi? Bisa benar.

Timoer Bandung, 2007

Posted in Catatan Sederhana | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »