Metz Muntsani

"Kesunyian adalah teman sejati"

Posts Tagged ‘Perempuan’

Surat Untuk Perempuan

Posted by metzz pada Juli 20, 2009

Perempuan, bagaimana kabarmu?
Sabda-sabda sejarah menjerit luka lukamu
Para lelaki bermain dadu nafsu
Tangisan bayimu menjelma doa
Dan air matanya menelan cahaya

Jalan di antara aku dan kamu searah
Menekan kesedihan yang memanjang
Sepanjang abad-abad yang angkuh
Terus memuntah serapah
Bahwa ada ketidakadilan bagimu

Kini, bangkitlah oh…..perempuan
Dunia bukan hanya untuk Adam semata
*
Perempuan, aku merindukan tajammu
Sekerat harapan keharmonisan
Bukan tentang keras dan lembut

Entah kenapa para lelaki
Membakar bantal-bantal yang telah ia nodai
Dan menggurui jejakmu
Dengan menelan darah seperti serigala
Ia merasa menang dan tak mau dibilang kalah
Padahal dalam kerasnya lemah
Tak memiliki apapun
Kecuali angkuhnya yang menafsu
**
Perempuan, aku belum selesai
Membalut luka luka yang membengkak

-Maret “07
Ciseda, Citimun

Posted in Antologi Seranum Senyum | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

September lalu…

Posted by metzz pada Juli 20, 2009

Sebelum kumulai, percayaku ia tetap menemaniku. Entah seberapa banyak paras mengisi sketsa langkahku. Tetaplah aroma itu membara tanpa aku bakar dengan emosi yang lain. Terkadang aku tidak sempat berfikir apa yang mesti didahulukan. Terkadang begitu pahit untuk dikenang………

Rinduku untuk sepeluk saja. Tidak lebih. Walau pada akhirnya aku membutuhkan beribu keping kisah dari kita. Karena aku tidak ingin ada retak yang melukis dengan aksara merah. Apalagi, hidup ini semakin letih, semakin tak mampu tertawa di lubuk hati.

Sebelum kulirik yang lain, bahasaku ia tetap menyanyikan sajak-sajakku. Ia masih termenung gelisah saat berpejam mata. Karena disanalah awal aku menyapanya.

Perempuan….
Bila kisahku lepuh di dalam hatimu, bagaimana kau ceritakan? Bagaimana kau sembunyikan? Dan bila kelak aku tak mampu menjadi sebait puisi, puisikanlah dengan bibirmu sendiri, sampai letih berganti tungguku. Di sini, aku tak mampu untuk tidak selalu kidungkan baris-baris catatan kita.

Setelah itu, September yang lalu, sangkaku memerah api. Meramu hasrat untuk mengakhiri segalanya. Dan baru aku rasakan, setelah banyaknya guliran waktu rapihkan langkahku, bahwa aku terlalu cepat menilai apa yang aku terima.

Memang begitu pekat. Terlalu banyak memoar yang mesti aku buka kembali. Sampai malam tak sepahit sebuah hidup tanpa tujuan.

Perumpuan…. (bersambung….)

Timoer Bandung, 2009

Posted in Catatan Sederhana | Dengan kaitkata: , , , , | 3 Comments »